Tampilkan postingan dengan label iain sunan ampel.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iain sunan ampel.. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 April 2011

PSI ABNORMAL (GANGGUAN PADA ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

Untuk mengklasifikasikan perilaku abnormal pada anak-anak, hal pertama kita harus mengetahui apa yang dianggap normal pada usia tersebut. Untuk menentukan apa yang normal dan abnormal, khusus pada anak yang perlu ditambahkan selain kriteria umum yang telah kita ketahui adalah factor usia anak dan latar belakang budaya. Banyak masalah yang pertama kali teridentifikasi pada saat anak masuk sekolah. Masalah tersebut mungkin sudah muncul lebih awal tetapi masih ditoleransi, atau tidak dianggap sebagai masalah ketika di rumah. Kadang-kadang stres karena pertama kali masuk sekolah ikut mempengaruhi kemunculannya (onset). Namun, perlu diingat bahwa apa yang secara sosial dapat diterima pada usia tertentu, menjadi tidak dapat diterima di usia yang lebih besar. Banyak pola perilaku yang mungkin dianggap abnormal pada masa dewasa, dianggap normal pada usia tertentu.
Gangguan pada anak-anak ini sering kali di kelompokkan dalam dua kelompok yaitu eksternalisasi dan internalisasi. Gangguan eksternalisasi ditandai dengan perilaku yang diarahkan ke luar diri, seperti agresivitas, ketidak patuhan, overaktivitas, dan impulsivitas dan termasuk berbagai kategori DSM-IV-TR, yaitu ADHD, gangguan tingkah laku (GTL), dan gangguan sikap menentang (GSM). Gangguan internalisasi ditandai dengan pengalaman dan perilaku yang lebih terfokus kedalam diri seperti depresi, menarik diri dari pergaulan social, dan kecemasan, termasuk juga anxietas dan mood dimasa anak-anak.
Anak-anak yang memiliki masalah-masalah yang terinternalisasi lebih besar kemungkinannya untuk tidak tertangani dibandingkan mereka yang memiliki masalah yang tereksternalisasi yang cenderung lebih mengganggu bagi orang lain. Anak laki-laki memiliki resiko yang lebih besar untuk mengembangkan banyak masalah di masa kanak-kanak, berkisar dari autisme sampai hiperaktif hingga ganggua eliminasi. Masalah kecemasan dan depresi juga mempengaruhi lebih banyak anak laki-laki daripada perempuan.  
BAB II
PEMBHASAN

A. Gangguan Pemusatan Perhatian / Hiperaktivitas
Seorang anak yang selalu begerak, mengetuk-ketukkan jari, mengoyang-goyangkan kaki, mendorong tubuh anak lain tanpa alasan yang jelas, berbicar tanpa henti, dan bergerak gelisah sering kali disebut hiperaktif. Anak-anak tersebut sulit untuk berkonsentrasi pada tugasyang dikerjakan dalam waktu tertentu yang wajar.
Diagnosis ADHD tidak tepat untuk anak-anak yang ribut, aktif, atau agak mudah teralih perhatiannya karena di tahun-tahun awal sekolah anak-anak sering berperilaku demikian (Whalen, 1983). Anak dengan ADHD mengalami kesulitan mengendalikan aktifitas dalam berbagai situasi yang menghendaki mereka duduk tenang. Mereka terdisorganisasi, eratik, tidak berperasaan, kerasa kepala, dan bossy. Banyak anak ADHD mengalami kesulitan besar untuk bermain dengan anak seusia mereka dan menjalin persahabatan (Hinshaw & Melnick, 1995; Whalen & Henker, 1985), hal ini mungkin karena mereka cenderung agresif saat bermain sehingga membuat teman-temannya merasa tidak nyaman.
Anak ADHD bermain agresif dengan tujuan mencari sensasi sedang anak normal malakukan hal tersebut dangan tujuan untuk bermain sportif. Anak ADHD mengetahui tindakan yang dibenarkan secara sosial dalam berbagai situasi hipotesis, namun tidak mampu mempraktekan pengetahuan tersebut dalam perilaku interaksi sosialnya (Whalen & Henker, 1985, 1999). Karena simtom-simtom ADHD bervariasai, DSM-IV-TR mencantumkan tiga subkategori, yaitu:
1. Tipe predominan inatentif: anak-anak yang masalah utamanya adalah rendahnya konsentrasi.
2. Tipe predominan Hiperaktif-Impulsif: anak-anak yang masalah utamanya diakibatkan oleh perilaku hiperaktif-impulsif.
3. Tipe kombinasi: anak-anak yang mengalami kedua rangkaian masalah diatas.
Anak-anak yang mengalami masalah atensi, namun memiliki tingkat aktivitas yang sesuai dengan tahap perkembangannya, tampak sulit memfokuskan perhatian atau lebih lambat dalam memproses informasi (Barkley, Grodzinsky, & DuPaul,1992), mungkin berhubungan dengna masalah pada daerah frontal atau striatal otak (Tannock,1998). Gangguan ADHD, lebih berhubungan dengan perilaku tidak mengerjakan tugas di sekolah, kelemahan kognitif, rendahnya prestasi, dan prognosis jangka panjangnya lebih baik. Berbeda dengan anak yang mengalami gangguan tingkah laku, mereka bertingkah disekolah dan dimana pun, dan kemungkinan jauh lebih agresif, serta mungkin memiliki orang tua yang antisosial.
ADHD ini banyak terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Anak yang mengalami ADHD, menunjukkan aktivitas yang berlebihan, perilaku temperamental, rasa ingin tahu yang berlebihan, serta sangat energik dalam bermain.

A.1 Teori Biologi ADHD
a. Faktor genetik, penelitian menunjukan bahwa predisposisi genetika terhadap ADHD kemungkinan berperan. Bila orang tua menderita ADHD, kemungkinan sebagian anaknya akan mengalami gangguan tersebut (Biederman, dkk, 1995). Mengenai apa yang diturunkan dalam keluarga sampai saat ini belum ditemukan, namun studi baru-baru ini menunjukan bahwa ada perbedaan ungsi dan struktur otak pada anak ADHD dan anak yang tidak ADHD. Frontal lobe pada anak ADHD kurang responsif terhadap stimulasi (Rubia dkk,1999 ; tannock, 1998), aliran darah cerebral berkurang (Sieg dkk, 1995). Terlebih lagi beberapa bagian otak (frontal lobe, nucleus, kaudat, globus pallidus) pada anak ADHD lebih kecil dari ukuran normal (Castellanos dkk, 1996; Filipek dkk, 1997; Hynd dkk, 1993).
b. Faktor perinatal dan prenatal, berbagai hal yang berhubungan dengan masa-masa kelahiran, serta berbagai zat yang dikonsumsi ibu saat kehamilan, merupakan prediktor simtom-simtom ADHD.
c. Racun lingkungan, teori pada tahu 1970-an menyangkut peran racun dalam terjadinya hiperaktifitas. Zat-zat adiktif pada makanan mempengaruhi kerja system saraf pusat pada anak-anak hiperaktif. Nikotin, merupakan racun lingkungan yang dapat berperan dalam terjadinya ADHD.



A.2 Teori Psikologis ADHD
Bruno Bettelheim (1973), mengemukakan teori diathesis-stres mengenai ADHD, yaitu hiperaktifitas terjadi bila suatu predisposisi terhadap gangguan dipasangkan dengan pola asuh orang tua yang otoritarian. Pembelajaran juga dapat berperan dalam ADHD, seperti yang dikemukakan Ross dan Ross (1982), hiperaktivitas dapat merupakan peniruan perilaku orang tua dan saudara-saudara kandung. Dalam hubungan orang tua-anak sangat kurang bersifat dua arah dan lebih mungkin merupakan “rantai asosiasi kompleks” (Hinshaw dkk, 1997). Seperti halnya orang tua anak yang hiperaktif mungkin memberi lebih banyak perintah dan memiliki interaksi negatif dengan mereka (a.l.,Anderson, Hinshaw, & Simmel, 1994; Heller dkk, 1996), demikian juga anak-anak hiperaktivitas diketahui kurang patuh dan memiliki interaksi yang lebih negative dengna orang tua mereka (Barkley, Karlsson & Pollar; Tallmadge & Barkley, 1983).

A.3 Penanganan ADHD
1). Pemberian Obat Stimulan. Metilfenidat, atau Ritalin, telah diresepkan bagi ADHD sejak awal tahun 1960-an (Sprague & Gadow, 1976), termasuk amfetamin, atau Adderall, dan Pemolin atau Cylert. Obat-obatan ini digunakan untuk mengurangi perilaku menganggu dan meningkatkan konsentrasi. Namun, penelitian lain mengindikasikan bahwa obat-obatan tersebut tidak dapat meningkatkan prestasi akademik untuk waktu lama. Efek samping dari obat-obatan ini adalah hilangnya nafsu makan untuk sementara dan masalah tidur.
2). Penanganan Psikologis. Selain pemberian obat, penanganan yang paling menjanjikan bagi anak-anak ADHD mencakup pelatihan bagi orang tua dan perubahan menajemen kelas berdasarkan prinsip-prinsip pengondisian operant. Program ini mampu untuk memperbaiki perilaku sosial dan akademik. Pada penanganan ini perilaku anak dipantau dan di rumah dan di sekolah, dan mereka diberi penguatan untuk berperilaku sesuai dengan harapan.
Fokus program operant ini adalah meningkatkan karya akademik, menyelesaikan tugas-tugas rumah, atau belajar keterampilan sosial spesifik, dan bukan untuk mengurangi tanda-tanda hiperaktivitas, seperti berlari ke sana kemari dan menggoyang-goyangkan kaki. Berbagai intervensi di sekolah bagi anak ADHD, mencakup pelatihan bagi para guru untuk memahami kebutuhan unik anak-anak tersebut dan menerapkan teknik-teknik operant tersebut di kelas (Welsh dkk, 1997), pembimbingan oleh teman sebaya dalam keterampilan akademik (DuPaul & Henningson,1993), meminta guru-guru untuk memberikan laporan harian kepada orang tua mengenai perilaku anak di sekolah, yang ditindaklanjuti dengan hadiah dan konsekuensi di rumah (Kelly, 1990).
B. Gangguan Tingkah Laku
Definisi gangguan tingkah laku pada DSM-IV-TR memfokuskan pada perilaku yang melanggar hak-hak dasar orang lain dan norma-norma sosial utama. Tipe perilaku yang dianggap sebagai simtom gangguan tingkah laku mencakup agresi dan kekejian terhadap orang lain atau hewan, merusakkan kepemilikan, berbohong, dan mencuri. Gangguan tingkah laku merujuk pada berbagai tindakan yang kasar dan sering dilakukan yang jauh melampaui kenakalan dan tipuan praktis yang umum dilakukan anak-anak dan remaja. Seringnya, perilaku ini ditandai dengan kesewenang-wenangan, kekejian dan kurang penyesalan.
Kriteria gangguan tingkah laku dalam DSM-IV-TR :
1. Pola perilaku yang berulang dan tetap yang melanggar hak-hak dasar orang lain atau norma-norma sosial konvensional yang terwujud dalam bentuk tiga atau lebih perilaku dibawah ini dalam 12 bulan terakhir dan minimal satu diantaranya dalam enam bulan terakhir :
a. Agresi terhadap orang lain dan hewan, contohnya mengintimidasi, memulai perkelahian fisik, melakukan kekejaman fisik kepada orang lain atau hewan, memaksa seseorang melakukan aktivitas seksual
b. Menghancurkan kepemilikan (properti), contohnya membakar, vandalisme
c. Berbohong atau mencuri, contohnya, masuk dengan paksa ke rumah atau mobil milik orang lain, menipu, mengutil
d. Pelanggaran aturan yang serius, contohnya tidak pulang ke rumah hingga larut malam sebelum usia 13 tahun karena sengaja melanggar peraturan orang tua, sering membolos sekolah sebelum berusia 13 tahun
2. Disabilitas signifikan dalam fungsi sosial, akademik atau pekerjaan
3. Jika orang yang bersangkutan berusia lebih dari 18 tahun, kriteria yang ada tidak memenuhi gangguan kepribadian anti sosial

Banyak anak yang mengalami gangguan tingkah laku juga menunjukkan gangguan lain. Ada tingkat komorbiditas yang tinggi antara gangguan tingkah laku dan ADHD. Hal ini terjadi pada anak laki-laki, namun jauh lebih sedikit yang diketahui mengenai komorbiditas gangguan tingkah laku dan ADHD pada anak perempuan. Penyalahgunaan zat juga umum terjadi bersamaan dengan gangguan tingkah laku dimana dua kondisi tersebut saling memperparah satu sama lain.
Terdapat bukti bahwa anak laki-laki yang mengalami gangguan tingkah laku dan komorbid dengan hambatan behavioral memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melakukan kejahatan dibanding mereka yang mengalami gangguan tingkah laku yang komorbid dengan penarikan diri dari pergaulan sosial. Bukti-bukti menunjukkan bahwa anak-anak perempuan yang mengalami gangguan tingkah laku beresiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai gangguan komorbid, termasuk kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat, dan ADHD dibanding dengan anak laki-laki yang memiliki gangguan tingkah laku.

B.1 Prognosis Gangguan Tingkah Laku
Gangguan tingkah laku di masa kanak-kanak tidak dengan sendirinya berlanjut menjadi perilaku antisosial di masa dewasa, meskipun memang menjadi faktor yang mempredisposisi. Studi baru-baru ini, menunjukkan bahwa meskipun sekitar separuh anak laki-laki yang mengalami gangguan tingkah laku tidak memenuhi kriteria lengkap bagi diagnosis tersebut pada pengukuran terkemudian (1-4 tahun kemudian), hampir semuanya tetap menunjukkan beberapa masalah tingkah laku (Lahey dkk.,1995). Beberapa individu tampaknya menunjukkan pola perilaku anti sosial yang “tetap sepanjang hidup”, dengan masalah tingkah laku yang bermula di usia 3 tahun dan berlanjut menjadi kesalahan perilaku yang serius di masa dewasa. Sementara itu, yang lain “terbatas di usia remaja”. Orang-orang tersebut mengalami masa kanak-kanak yang normal, terlibat dalam perilaku antisosial dengan tingkat yang tinggi selama masa renaja, dan kembali ke gaya hidup tidak bermasalah di masa dewasa.
Lahey, dkk (1995) menemukan bahwa anak laki-laki dengan gangguan tingkah laku perilaku antisosialnya jauh lebih mungkin untuk berlanjut jika memiliki salah satu orang tua yang mengalami gangguan kepribadian antisosial atau jika mereka memilki kecerdasan verbal rendah. Interaksi beberapa faktor individual, seperti temperamen, psikopatologi yang dialami orang tua, dan interaksi orang tua-anak yang disfungsional, dan faktor-faktor sosiokultural, seperti kemiskinan, dan dukungan sosial rendah, berkontribusi terhadap lebih banyaknya kemungkinan timbulnya perilaku agresif di usia dini dengan sifat tetap.
B.2 Etiologi dan Faktor Resiko Gangguan Tingkah Laku
a. Faktor-faktor biologis. Dalam tiga studi adopsi berskala besar di Swedia, Denmark, dan Amerika Serikat, mengindikasikan bahwa perilaku kriminal dan agresif dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan dimana faktor lingkungan pengaruhnya sedikit lebih besar. Dari studi terhadap orang kembar mengindikasikan bahwa perilaku agresif (a.l kejam terhadap hewan, berkelahi, merusak kepemilikan) jelas diturunkan, sedangkan perilaku kenakalan lainnya (a.l mencuri, lari dari rumah, membolos sekolah) kemungkinan tidak demikian. Kelemahan neurologis, tercakup dalam profil masa kanak-kanak dari anak-anak yang mengalami gangguan tingkah laku. Kelemahan tersebut termasuk keterampilan verbal yang rendah, masalah dalam fungsi pelaksanaan (kemampuan mengantisipasi, merencanakan, menggunakan pengendalian diri, dan menyelesaikan masalah) dan masalah memori.
b. Faktor-faktor psikologis. Teori pembelajaran yang melibatkan modelling dan pengondisian operant memberikan penjelasan yang bermanfaat mengenai perkembangan dan berlanjutnya masalah tingkah laku. Anak-anak dapat mempelajari agresivitas orang tua yang berperilaku agresif. Anak juga dapat meniriu tindakan agresif dari berbagai sumber lain seperti televisi. Karena agresi merupakan cara mencapai tujuan yang efektif , meskipun tidak menyenangkan , kemungkinan hal tersebut dikuatkan. Oleh karena itu setelah ditiru, tindakan agresif kemungkinan akan dipertahankan.Berbagai karakteristik pola asuh seperti disiplin keras dan tidak konsisten dan kurangnya pengawasan secara konsisiten dihubungkan dengan perilaku antisosial pada anak-anak.
c. Pengaruh dari teman-teman seusia. Penelitian mengenai pengaruh teman seusia terhadap agresi dan antisocial anak-anak memfokuskan pada dua bidang besar, yaitu:
1) Penerimaan atau penolakan dari teman-teman seusia. Penolakan menunjukkan hubungan yang kausal dengan perilaku agresif, bahkan dengan tindakan pengendalian perilaku agresif yang terdahulu (Coie & Dodge, 1998).
2) Afiliasi dengan teman-teman seusia yang berperilaku menyimpang. Pergaulan dengan teman seusia yang nakal juga dapat meningkatkan kemungkinan perilaku nakal pada anak (Capaldi & Patterson, 1994).
d. Faktor-faktor sosiologis. Tingkat pengangguran tinggi, fasilitas pendidikan yang rendah, kehidupan keluarga yang terganggu, dan subkultur yang menganggap perilaku criminal sebagai suatu hal yang dapat diterima terungkap sebagai faktor-faktor yang berkontribusi (Lahey dkk, 1999; Loeber & Farrington, 1998). Kombinasi perilaku antisosial anak yang timbul di usia dini dan rendahnya status sosioekonomi keluarga memprediksikan terjadinya penangkapan di usia muda karena tindakan criminal (Patterson, Crosby, & Vuchinich, 1992). Factor-faktor social berperan, korelasi terkuat dengan kenakalan adalah hiperaktivitas dan kurangnya pengawasan orang tua.



B.3 Penanganan Gangguan Tingkah Laku
Hal penting bagi keberhasilan dalam penanganan adalah upaya mempengaruhi banyak system dalam kehidupan seorang remaja (keluarga, teman-teman sebaya, sekolah, lingkungan tempat tinggal). Salah satu masalah yang dihadapi masyarakat adalah bagaimana menghadapai orang-orang yang nurani sosialnya tampak kurang berkembang.
1. Intervensi keluarga, beberapa pendekatan yang paling menjanjikian untuk menangani gangguan tingkah laku mnecakup intervensi bagi orang tua atau keluarga dari si anak antisosial. Gerald Patterson dan kolegannya mengembangkan dan menguji sebuah program behavioral, yaitu Pelatihan Manajemen Pola Asuh (PMP), dimana orang tua diajari untuk mengubah berbagai respon untuk anak-anak mereka sehingga perilaku prososial dan bukannya perilaku antisosial yang dihargai secara konsisten. Para orang tua diajarkan untuk menggunakan teknik-teknik seperti penguatan positif bila si anak menunjukkan perilaku positif dan pemberian jeda serta hilangnya perilaku istimewa bila ia berperilaku agresif atau antisosial. Pmp terbukti mengubah interaksi orang tua-anak, yang pada akhirnya berhubungan dengan berkurangnya perilaku antisosial dan agresif (Dishion & Andrews, 1995; Dishion, Patterson & kavenagh, 1992). PMP juga terbukti memperbaiki perilaku para saudara kandung dan mengurangi depresi pada para ibu yang mengikuti program tersebut (Kazdin,1985).
2. Penanganan multisistemik (PMS), Henggeler menujukkan keberhasilan dalam hal mengurangi tingkat penangkapan karena tindak kriminal dalam empat tahun setelah penanganan (Borduin dkk, 1995). Intervensi ini memandang masalah tingkah laku sebagai suatu hal yang dipengaruhi oleh berbagai konteks dalam keluarga dan antara keluarga dan berbagai sistem sosial lainnya. Teknik yang dipergunakan variasai meliputi teknik perilaku kognitif, system keluarga, dan manajemen kasus. Keunikan dari terapi ini terletak pada penekanan kekuatan individu dan keluarga, mengidenikasikan konteks bagi masalah-masalah tingkah laku, yang berfokus pada masa kini dan berorientasi pada tindakan, dan menggunakan intervensi yang membutuhkan upaya harian atau mingguan oleh para anggota.
3. Pendekatan kognitif, terapi dengan intervensi bagi orang tua dan keluarga merupakan komponen keberhasilan yang penting, tetapi penangana semacam itu banyak memakan biaya dan waktu. Oleh kerena itu, penanganan dengan terapi kognitif individual bagi anak-anak yang mengalami gangguan tingkah laku dapat mempaerbaiki tingkah laku mereka, meski tanpa melibatkan keluarga. Contoh: mengajarkan keterampilan kognitif pada anak-anak untuk mengendalikan kemarahan mereka menunjukan manfaat yang nyata dalam membantu mereks mengurangi perilaku agresif. Mereka belajar untuk bertahan dari serangan verbal tanapa merespon secara agresif dengan menguanakan teknik pengalihan seperti bersenandung, mengatakan hal-hal yang menyenangkan pada diri sendiri, atau beranjak pergi. Strategi lain dengan mengajarkan keterampilan moral kepada berbagai kelompok remaja yang mengalami ganguan perilaku.
C. Disabilitas Belajar
Disabilitas belajar merujuk pada kondisi tidak memadainya perkembangan dalam suatu bidang akademik tertentu, bahasa, berbicara, atau keterampilan motorik yang tidak disebabkan oleh retardasi mental, autisme, gangguan fisik yang dapat terlihat, atau kurangnya kesempatan pendidikan. Anak-anak yang mengalami gangguan ini umumnya memiliki intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun mengalami kesulitan mempelajari beberapa keterampilan tertentu (misal aritmatika atau membaca) sehingga kemajuan mereka di sekolah menjadi terhambat. Disabilitas belajar untuk menggabungkan tiga gangguan yang tercantum dalam DSM-IV-TR yaitu : gangguan perkembangan belajar, gangguan berkomunikasi, dan gangguan keterampilan motorik.
C.1 Gangguan Perkembangan Belajar
Kriteria Gangguan Perkembangan Belajar dalam DSM-IV-TR :
a. Prestasi dalam bidang membaca, berhitung atau menulis ekspresif di bawah tingkat yang diharapkan sesuai usia penderita, pendidikan, dan intelegensi.
b. Sangat menghambat performa akdemik atau aktivitas sehari-hari.
Gangguan perkembangan belajar dibagi menjadi tiga kategori. Tidak satupun dari diagnosis yang tepat jika disabilitas tersebut dapat disebabkan oleh defisit sensori, seperti masalah visual atau pendengaran.
a. Anak dengan gangguan membaca (disleksia) mengalami kesulitan besar untuk mengenali kata, memahami bacaan, serta umumnya juga menulis ejaan. Masalah ini terus dialami hingga dewasa. Gangguan ini terjadi 5-10 persen anak usia sekolah, tidak menghambat penderitanya untuk berprestasi.
b. Gangguan menulis ekspresif menggambarkan hendaya dalam kemampuan untuk menyusun kata tertulis (termasuk kesalahan ejaan, kesalahan tata bahasa atau tanda baca, atau tulisan tangan yang buruk) yang cukup parah sehingga dapat sangat menghambat prestasi akademik atau aktivitas sehari-hari.
c. Anak-anak dengan gangguan berhitung dapat mengalami kesulitan dalam mengingat fakta-fakta secara cepat dan akurat, menghitung objek dengan benar dan cepat, atau mengurutkan angka-angka dalam kolom-kolom.

C.2 Gangguan Komunikasi
Beberapa kategori gangguan berkomunikasi, antara lain :
a. Gangguan berbahasa ekspresif, dimana anak mengalami kesulitan mengekspreksikan dirinya dalam berbicara. Anak tampak sangat ingin berkomunikasi tetapi sangat sulit untuk menemukan kata-kata yang tepat. Misalnya tidak mampu mengucapkan kata mobil saat menunjuk sebuah mobil yang melintas. Kata-kata yang sudah terkuasai terlupakan oleh kata-kata yang baru dikuasai, dan penggunaan struktur bahasa sangat di bawah tingkat usianya.
b. Gangguan fonetik, dimana anak menguasai dan mampu mempegunakan perbendaharaan kata dalam jumlah besar tetapi tidak dapat mengucapkannya dengan jelas, contohnya biru diucapkan biu. Mereka tidak menguasai artikulasi suara dari huruf-huruf yang dikuasai terkemudian, seperti r, s, t, f, z, l, dan c.
c. Gagap, yaitu gangguan kefasihan verbal yang ditandai dengan satu atau lebih pola bicara berikut ini : seringnya pengulangan atau pemanjangan pengucapan konsonan atau vokal, jeda yang lama antara pengucapan satu kata dengan kata berikutnya, mengganti kata-kata yang sulit dengan kata-kata yang mudah diucapkan, dan mengulang kata. Jumlah laki-laki yang mengalami masalah ini sekitar 3 kali lebih banyak dari perempuan, biasanya muncul sekitar usia 5 tahun dan hampir selalu sebelum usia 10 tahun. DSM memperkirakan bahwa 80% indivisu yang gagap dapat sembuh tanpa intervensi profesional sebelum penderita menmcapai usia 16 tahun.

C.3 Gangguan Keterampilan Motorik
Disebut juga gangguan komunikasi perkembangan dimana seorang anak mengalami hendaya parah dalam perkembangan koordinasi motorik yang tidak disebabkan oleh retardasi mental atau gangguan fisik lain yang telah dikenal sebagai serebral palsi. Anak mengalami kesulitan menalikan sepatu dan mengancingkan baju, dan bila berusia lebih besar kesulitan membuat suatu bangun, bermain bola, dan menggambar atau menulis. Diagnosis hanya ditegakkan bila hendaya tersebut sangat menghambat prestasi akademik atau aktivitas sehai-hari.

C.4 Etiologi Disabilitas Belajar
a. Etiologi Disleksia
Kelemahan inti yang membentuk disleksia mencakup berbagai masalah dalam proses-proses visual/pendengaran dan bahasa. Penelitian menunjukkan adanya satu masalah atau lebih dalam pemrosesan bahasa yang dapat mendasari disleksia, termasuk persepsi bicara dan analisis bunyi bahasa ucapan dan hubungannya dengan kata-kata tertulis (Mann & Braddy, 1988). Beberapa anak tertentu lebih mungkin mengalami disleksia, yaitu : mereka yang mengalami kesulitan mengenali sajak atau puisi di usia 4 tahun (Bradley & Bryant, 1985); mengalami kesulitan menyebutkan nama objek familiar dengan cepat pada usia 5 tahun (Scarborough, 1990); dan mereka yang terlambat menguasai berbagai aturan bentuk kalimat pada usia 2,5 tahun (Scarborough, 1990). Bukti lain, bahwa berbagai studi keluarga dan anak kembar menegaskan bahwa terdapat komponen keturunan dalam disleksia, yang kemungkinan dikendalikan oleh kromosom 6 (Cardon dkk. ,1994 ;Fisher dkk. ,1999; Gayan dkk. ,1999; Grigoreko dkk. , 1997)
b. Etiologi Gangguan Berhitung
Terdapat tiga subtipe gangguan berhitung menurut para ahli. Pertama, kelemahan pada memori verbal semantik dan memicu timbulnya masalah dalam mengingat fakta-fakta aritmatik, bahkan setelah melalui latihan ekstensif. Tipe ini tampaknya berhubungan dengan beberapa disfungsi pada belahan kiri otak dan seringkali terjadi bersamaan dengan gangguan membaca.
Kedua, menyangkut penggunaan strategi yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan dalam menyelesaikan soal-soal aritmatik dan seringnya melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal sederhana.
Ketiga, jarang terjadi yaitu yang menyangkut hendaya keterampilan visuospasial, yang mengakibatkan kesalahan dalam mengurutkan angka-angka dalam kolom atau melakukan kesalahan menempatkan angka (meletakkan poin desimal di tempat yang salah).
Secara khusus, tipe disabilitas berhitung yang menyangkut hendaya memori semantik merupakan tipe yang paling mungkin diturunkan. Sebuah studi terhadap lebih dari 250 pasangan kembar menunjukkan bahwa faktor-faktor genetis yang sama mendasari kelemahan membaca dan berhitung pada anak-anak yang mengalami kedua gangguan tersebut (Gillis & DeFries, 1991).

C.5 Penanganan Disabilitas Belajar
Berbagai program penanganan harus memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengalami rasa kemampuan dan self efficacy, mengurangi masalah behavioral yang diakibatkan oleh rasa frustrasi, mencakup strategi untuk mengatasi masalah penyesuaian masalah sosial dan emosional sekunder yang mereka alami.
Intervensi untuk Gangguan Belajar (Lyon & Moats, 1988)
1. Model Psikoedukasi. Menekankan pada kekuatan-kekuatan dan preferensi-preferensi anak dari pada usaha untuk mengoreksi defisiensi yang mendasarinya. Misalnya anak yang menyimpan informasi auditori lebih baik dibanding visual akan diajar secara verbal, misalnya mengguanakan rekaman pita, dan bukan materi-materi visual.
2. Model Behavioral. Mengasumsikan bahwa belajar akademik dibangun diatas hierarki ketermpilan-keterampilan dasar, atau ’perilaku yang memampukan (enabling behaviours)”. Kompetensi belajar anak akan dinilai untuk menentukan letak defisiensi dalam hierarki keterampilan. Program intruksi dan penguatan perilaku yang disusun secara individual akan membantu anak.
3. Model Medis. Mengasumsikan bahwa gangguan belajar merefleksikan dalam pengolahan informasi yang memiliki dasar biologis. Program-program harus diadaptasi untuk memperhatikan defisit-defisit yang mendasarinya ini dan disesuaikan dengan kebiutuhan anak (Levine, 2000).
4. Model Linguistik. Terfokus pada defisiensi dasar pada bahasa anak. Menekankan intruksi dalam keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dengan cara yang logis, berurutan, dan multi indrawi, seperti membaca dengan keras seraya disupervisi dengan teliti. Model ini mengajarkan keterampilan bahasa secara bertahap, membantu murid-murid menangkap struktur dan meggunakan kata-kata (Shaywitz, 1998; Wagner & Torgesen, 1987)
5. Model Kognitif. Berfokus pada bagaimana anak mengatur pemikiran mereka ketika belajar materi-materi akademik. Anak dibantu untuk belajar dengan (1) mengenali sifat dari tugas belajar, (2) menerapkan strategi-strategi untuk menyelesaikan tugas-tugas dan (3) memonitor kesuksesan strategi-strategi mereka.
Para peneliti mengembangkan permainan komputer khusus dan rekaman radio yang memperlambat pengucapan bunyi. Latihan intensif dapat meningkatkan keterampilan bahasa anak yang mengalami gangguan bahasa berat .

D. Retardasi Mental
Retardasi mental ialah keterlambatan yang mencakup rentang yang luas dalam perkembangan fungsi kognitif dan social (APA, 2000).
Kriteria Retardasi Mental dalam DSM-IV-TR :
 Fungsi intelektual yang secara signifikan di bawah rata-rata, IQ kurang dari 70
 Kurangnya fungsi sosial adaptif dalam minimal dua bidang berikut : komunikasi, mengurus diri sendiri, kehidupan keluarga, keterampilan interpersonal, pengguanaan sumber daya komunitas, kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri, keterampilan akademik fungsional, rekreasi, pekerjaan, kesehatan dan kemanan
 Onset sebelum usia 18 tahun

D.1 Kriteria Tradisional untuk Retardasi Mental
Skor Tes Intelegensi. Mereka yang memiliki skor di bawah 70 hingga 75, dua deviasi standar di bawah rata-rata populasi, memenuhi kriteria “fungsi intelektual umum secara signifikan di bawah rata-rata.”
Fungsi Adaptif. Merujuk pada penguasaan keterampilan masa kanak-kanak seperti menggunakan toilet dan berpakaian, memahami konsep waktu dan uang, mampu menggunakan peralatan, berbelanja, dan melakukan perjalanan dengan transportasi umum, serta mengembangkan responsivitas sosial.
Usia Onset. Gangguan retardasi mental terjadi sebelum usia 18 tahun, untuk mencegah mengklasifikasikan kelemahan intelegensi dan perilaku adaptif yang disebabkan oleh cedera atau sakit yang terjadi kemudian dalam hidup sebagai retardasi mental.



D.2 Klasifikasi Retardasi Mental
 Retardasi Mental Ringan (IQ 50 hingga 70). Di usia remaja akhir dapat mempelajari ketrampilan akademik setara dengan kelas enam. Ketika dewasa, mampu melakukan pekerjaan yang tidak memerlukan keterampilan, meski masih membutuhkan bantuan dalam masalah sosial dan keuangan. Mereka bisa menikah dan mempunyai anak.
 Retardasi Mental Sedang (IQ 35-40 hingga 50-55). Mereka dapat mengalami kelemahan fisik dan disfungsi neurologis yang menghambat keterampilan motorik normal. Dengan banyak bimbingan dan latihan, mereka dapat bepergian sendiri di tempat yang tidak asing bagi mereka.
 Retardasi Mental Berat (IQ 20-25 hingga 35-40). Memiliki abnormalitas fisik sejak lahir dan keterbatasan dalam pengendalian sensori motor. Mereka hanya dapat melakukan sedikit aktivitas karena kerusakan otak yang parah. Mereka mampu melakukan pekerjaan yang sangat sederhana dengan supervisi terus menerus.
 Retardasi Mental Sangat Berat (IQ di bawah 20-25). Mereka membutuhkan supervisi total dan seringkali harus diasuh sepanjang hidup mereka. Sebagian besar memiliki abnormalitas fisik berat serta kerusakan neurologis dan tidak dapat berjalan sendiri ke manapun.

D.3 Etiologi Retardasi Mental
Penyebab spesifik yang dapat diidentifikasi umumnya adalah penyebab biologis:
1. Anomali Genetik atau kromosom. Abnormalitas kromosom terjadi pada kurang dari 5 % dari seluruh kehamilan yang dapat bertahan. Secara keseluruhan, sekitar separuh dari 1 % bayi yang dilahirkan mengalami abnormalitas kromosom (Smith, Bierman, & Robinson, 1978). Sebagian besar bayi tersebut meninggal sesaat setelah dilahirkan. Bayi yang dapat bertahan, mayoritas mengalami Sindroma Down atau trisomi 21.
2. Penyakit Gen Resesif. Salah satu penyakit tersebut adalah fenilketonuria (PKU) dimana terjadi defisiensi enzim hati (fenilalanin hidroksilase) yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki.
3. Penyakit Infeksi. Konsekuensi paling terjadi dalam trimester pertama dimana janin belum memiliki respon imunologis yang dapat dideteksi, yaitu sistem imunnya belum berkembang untuk melawan virus.
4. Kecelakaan. Dapat menyebabkan berbagai cedera otak dalam tingkat yang bervariasi dan retardasi mental.
5. Bahaya Lingkungan. Beberapa polutan seperti merkuri, timah dapat menyebabkan keracunan dan retardasi mental.

D.4 Pencegahan dan Penanganan Retardasi Mental
1. Penanganan Residensial
Sejak tahun 1975, individu yang mengalami retardasi mental berhak mendapatkan penanganan yang sesuai dalam lingkungan dengan batasan yang sangat minimal. Orang dewasa dengan retardasi mental sedang, tinggal di tempat sederhana dan disediakan perawatan medis. Mereka didorong untuk berpartisipasi dalam tugas rutin rumah tangga semampu mereka. Mereka yang mengalami retardasi mental berat, tinggal di rumah perawatan yang dilengkapi dengan layanan pendidikan dan psikologis.
2. Intervensi Behavioral Berbasis Pengondisian Operant
Dalam metode operant, anak-anak diajari berbagai keterampilan selangkah demi selangkah dan berurutan. Prinsip-prinsip pengondisian operant kemudian diterapkan untuk mengajarkan berbagai komponen aktivitas pada anak, juga digunakan untuk mengurangi perilaku yang tidak pada tempatnya dan perilaku mencederai diri sendiri. Intervensi Kognitif
3. Latihan Inruksional Diri mengajari mereka yang mengalami retardasi mental untuk memandu upaya penyelesaian masalah mereka melalui kata-kata yang diucapkan.
4. Intruksi dengan Bantuan Komputer
Komponen visual dan auditori dalam komputer dapat mempertahankan konsentrasi para siswa yang sulit berkonsentrasi. Komputer dapat memenuhi kebutuhan akan banyaknya pengulangan materi tanpa menjadi bosan atau tidak sabar seperti yang dapat terjadi pada guru.
E. Gangguan Autistik (Gangguan Perkembangan Pervasif)
E.1 Karakteristik Gangguan Autistik
Individu autis tidak mampu berhubungan dengan orang lain secara wajar. Mereka memiliki keterbatasan yang parah dalam bahasa dan keinginan obsesif yang kuat. Mereka mengalami ketertarikan dan menciptakan kelekatan kuat dengan berbagai benda-benda mati dan berbagai benda mekanis.
Kekurangan Komunikasi. Mengoceh (babbing), istilah yang menggambarkan ucapan bayi sebelum mereka mulai mengucapkan kata-kata sebenarnya, jarang dilakukan oleh bayi autis. Pada usia 2 tahun, sekitar 50 % anak autis tidak pernah belajar berbicara sama sekali. Mereka yang jarang belajar berbicara, bicaranya mencakup berbagai keanehan. Salah satu cirinya adalah ekolalia, dimana anak mengulangi, biasanya dengan ketepatan luar biasa, perkataan orang lain yang didengarnya. Abnormalitas lain yang umum terjadi adalah pembalikan kata ganti. Anak merujuk dirinya sendiri dengan kata “ia”, atau “kamu” atau dengan menyebut nama mereka sendiri. Neologisme, kata-kata ciptaan atau kata-kata yang digunakan dengan cara tidak biasa. Misalnya anak 2 tahun, dapat menyebut milk (susu) dengan kata “moyee” dan terus berlanjut hingga melewati masa dimana anak normal sudah bisa mengucapkannya. Anak-anak dengan autisme sangat kaku dalam menggunakan kata-kata. Kelemahan komunikasi tersebut dapat menjadi penyebab kelemahan sosial pada mereka. Meskipun mereka telah belajar berbicara, mereka seringkali kurang memiliki spontanitas verbal dan jarang berekspresi secara verbal serta penggunaan bahasa mereka tidak selalu tepat (Paul, 1987).
Tindakan Repetitif dan Ritualistik. Anak dengan autis dapat menjadi sangat marah bila terjadi perubahan dalam rutinitas harian dan situasi sekeliling mereka. Karakteristik obsesional juga terdapat dalam perilkau anak autis dengan cara yang berbeda. Mereka juga memiliki perilaku stereotipik, gerakan tangan ritualistik yang aneh, dan gerkan ritmik lainnya, seperti menggoyangkan tubuh tanpa henti, berjalan dengan berjinjit. Menunjukkan fokus yang berlebihan pada bagian-bagian objek (misalnya memutar roda moil-mobilan secara berualang-ulang,) atau kelekatan yang tidak biasa terhadap objek-objek (seperti membawa seutas tali).
Kemunculannya (onsetnya) terjadi sebelum usia 3 tahun yang tampak dari fungsi yang abnormal pada paling tidak satu dari hal-hal berikut ini: perilaku sosial, komunikasi, atau bermain imjinatif.

E.2 Prognosis Gangguan Autistik
Berdasarkan kajiannya terhadap semua studi yang dipublikasikan, Lotter (1978) menyimpulkan bahwa 5 hingga 17 % anak-anak autis yang dapat melakukan penyesuaian yang relatif baik pada masa dewasa, menjalani hidup mandiri, namun tetap mengalami beberapa masalah residual seperti kegugupan sosial. Sebagian besar menjalani kehidupan yang terbatas dan sekitar separuhnya dirawat di institusi mental.
Individu autistik yang tidak mengalami retardasi mental dan memiliki keberfungsian tinggi mengindikasikan bahwa sebagian besar tidak membutuhkan perawatan di suati institusi dan beberapa diantaranya mampu belajar di perguruan tinggi dan membiayai diri sendiri dengan bekerja (Yirmia & Sigman, 1991). Namun banyak juga yang mampu berfungsi secara mandiri tetap menunjukkan hendaya dalam hubungan social.
E.3 Etiologi Gangguan Autistik
Basis Psikologis
1). Teori psikoanalisis
Yang paling dikenal adalah teori yang dikemukakan oleh Bruno Bettelhem (1967) dimana asumsi dasarnya bahwa autis disebabkan oleh pengalaman masa lalu. Balita dapat menolak orang tuanya dan mampu merasakan perasaan negatif mereka. Bayi melihat tindakannya hanya berdampak kecil pada perilaku orang tua yang tidak responsif. Maka, si anak kemudian meyakini bahwa ia tidak memiliki danpak apapun pada dunia, kemudian menciptakan “benteng kekosongan” autisme untuk melindungi diri dari penderitaan dan kekecewaan.
2). Teori Behavioral
Beberapa teori mengemukakan teori bahwa pengalaman belajar tertentu di masa kanak-kanak menyebabkan autisme. Ferster (1961), berpendapat bahwa tidak adanya perhatian dari orang tua, terutama ibu, mencegah terbentuknya berbagai asosiasi yang menjadikan manusia sebagai penguat sosial.
Basis Biologis
1). Faktor-Faktor Genetik
Resiko autisme pada saudara-saudara kandung dari orang-orang yang mengalami gangguan tersebut sekitar 75 kali lebih besar dibanding jika kasus indeks tidak mengalami gangguan autistik (McBride, Anderson, & Shapiro, 1996).dalam studi terhadap orang kembar, menemukan 60-91 % kesesuaian bagi autisme antara kembar identik, dibanding dengan tingkat kesesuaian 0-20 % pada kembar fraternal (Bailey dkk. , 1995 ; LeCouter dkk., 1996 ; Steffenberg dkk.,1989).
2). Faktor-Faktor Neurologis
Dari berbagai studi EEG, banyak anak autis yang memiliki pola gelombang otak abnormal, adanya tanda-tanda disfungsi otak. Abnormalitas neurologis tersebut menunjukkan bahwa dalam masa perkembangan otak mereka, sel –sel otak gagal menyatu dengan benar dan tidak membentuk jaringan koneksi seperti terjadi dalam perkembangan otak secara normal.
Prevalensi autisme pada anak yang ibunya terinfeksi rubella semasa hamil hampir 10 kali lebih besar dibanding pada anak-anak dalam popilasi umum. Pada para individu dengan autisme, berbagai daerah otak yang berhubungan dengan pemrosesan ekspresi wajah (lobus temporalis) dan emosi (amigdala) tidak aktif selama melakukan tugas tersebut (Critchley dkk., 2001).

E.4 Penanganan Gangguan Autistik
Penanganan untuk anak autis biasanya mencoba mengurangi perilaku mereka yang tidak wajar dan meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial. Meski teori biologis labih banyak mendapat dukungan empiris, intervensi psikologislah yang paling menjanjikan.
Masalah Khusus dalam Menangani Anak dengan Autis
Ada beberapa karakteristik yang dimiliki anak autis yang membuat mereka sulit untuk ditangani, antara lain :
 Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan rutinitas dan karakteristik serta tujuan utama penanganan mencakup perubahan.
 Pengisolasian diri dan gerakan stimulasi diri yang mereka lakukan dapat menghambat pengajaran yang efektif.
 Sangat sulit menemukan cara untuk memotivasi anak dengan autis. Penguat harus eksplisit, konkret dan sangat menonjol.
 Selektivitas yang berlebihan dalam mengarahkan perhatian. Jika mereka sudah terfokus pada satu hal atau benda, yang lain akan terabaikan sama sekali.
Penanganan Behavioral Untuk Anak dengan Autis
Dengan Modelling dan Pengondisian Operant, para terapis perilaku mengajari anak-anak autis untuk berbicara, mengubah bicara ekolalik mereka, mendorong mereka untuk bermain dengan anak lain, dan membantu mereka secara umum menjadi lebih responsif kepada orang dewasa.
Ivar Lovaas menjalankan programoperant intensif bagi anak autis yang sangat muda ( di bawah usia 4 tahun). Terapi mencakup semua aspek kehidupan anak selama lebih dari 40 jam seminggu dalam waktu lebih dari 2 tahun. Para orang tua diberi pelatihan ekstensif sehingga penanganan dapat terus dilakukan hampir selama waktu terjaga anak-anak tersebut. Semua anak diberi hadiah bila berperilaku kurang agresif, lebih patuh, dan lebih berperilaku pantas secara sosial, misalnya berbicara dan bermain dengan anak lain. Tujuan program ini adalah membaurkan anak-anak tersebut dengan asumsi bahwa anak autis seiring membaiknya kondisi mereka, akan lebih memperolah manfaat bila berbaur bersama anak normal. Pendidikan yang diberika oleh orang tua bagi anak dari pada penanganan berbasis klinik atau rumah sakit. Koegel dan para koleganya (1982) menunjukkan bahwa 25 hingga 30 jam pelatihan bagi orang tua sama efektifnya dengan 200 jam penanganan langsung di klinik dalam hal memperbaiki perilaku anak autis. Namun Koegel berpendapat bahwa dari pada mengajari para orang tua untuk memfokuskan pada mengubah perilaku bermasalah yang ditargetkan secara individual dengan cara berurutan, orang tua akan lebih efktif bila diajari untuk terfokus pada meningkatkan motivasi dan responsivitas umum anak autis mereka. Misalnya, mengjinkan anak memilih bahan pengajaran, memberi penguat alami (pujian, bermain) dari pada pengaut berupa makanan, dan menguatkan upaya merespon serta memperbaiki respon dapat meningkatkan interaksi dan komunikasi keluarga. Salah satu intervensi berbasis komunitas yang berupaya melibatkan orang tua dalam proses penanganan adalah Treatment and Education of Autistic and related Communication Handicapped Children (TEACHC).

Penanganan Psikodinamik bagi Anak-Anak Autis
Menurut Bruno Bettelheim (1967, 1974), atmosfer yang hangat dan penuh kasih sayang harus diciptakan untuk mendorong si anak memasuki dunia. Kesabaran sebagai penerimaan positif tanpa syarat diyakini merupakan hal yang perlu dilakukan oleh anak autis untuk memulai mempercayai orang lain dan untuk mengambil kesempatan dalam membangun hubungan dengan orang lain.

Penanganan dengan Obat-Obatan
Obat yang paling umum digunakan adalah haloperidol, suatu obat antipsikotik yang sering digunakan untuk menangani skizofrenia. Beberapa studi menunjukkan bahwa obat ini mengurangi penarikan diri dari kehidupan sosial, perilaku motorik stereotipik, dan perilaku maladaptif, seperti melukai diri sendiri dan agresi.namun, obat ini tidak menunjukkan efek positif untuk aspek-aspek lain gangguan autistik, seperti hubungan interpersonal yang abnormal dan hendaya bahasa.
Para peneliti meneliti suatu antagonis reseptor opioid, neltrakson, dan menemukan bahwa obat ini mengurangi hiperaktivitas pada anak anak autis dan cukup meningkatkan perilaku memulai interaksi sosial. Selain itu juga menunjukkan sedikit peningkatan dalam perilaku memulai komunikasi. Namun obat tersebut tampaknya tidak berpengaru pada simtom-simtom utama autisme, dan beberapa bulti menunjukkan bahwa dalam dosis tertentu obat tersebut dapat meningkatkan perilaku melukai diri sendiri (Anderson dkk, 1997).


BAB III
KESIMPULAN
• Gangguan di masa kanak-kanak sering dikelompokkan dalam dua kelompok:
1. Gangguan eksternalisasi ditandai oleh perilaku seperti agresivitas, ketidakpatuhan, aktivitas yang berlebihan dan impulsivitas; gangguan tersebut mencakup gangguan pemusatan perhatian/ hiperaktivitas, gangguan tingkahlaku dan gangguan sikap menentang.
2. Gangguan internalisasi ditandai oleh perilaku seperti depresi, penarikan diri dari pergaulan social, dan kecemasan dan termsuk anxietas dan gangguan mood di masa kanak-kanak.
• Gangguan pemusatan perhatian/ hiperaktivitas (ADHD) adalah pola tetap tidak adanya konsentrasi dan/ hiperaktivitas dan impulsivitas yang lebih sering dan lebih parah dari yang umumnya terlihat pada anak-anak pada usia tertentu. Terdapat semakin banyak bukti mengenai factor-faktor genetic dan neurologis dalam etiologi gangguan ini. Obat-obat stimulant seperti Ritalin, dan pengutan untuk tetap mengerjakan tugas cukup efektif untuk mengurangi simtom-simtom ADHD.
• Gangguan tingkah laku kadang merupakan awal gangguan kepribadian antisocial di masa dewasa, meskipun banyak anak yang mendapatkan diagnosis tersebut tidak berlanjut ke gangguan yang lebih ekstrem tersebut. Gangguan ini ditandai dengan kadar yang tinggi dan luas dalam agresi, berbohong, mencuri, vandalism kejam terhadap orang lain yan gmelanggar hokum dan norma-norma social. Diantara factor-faktor etiologis dan risiko yang nyata adalah predisposisi genetic, pembelajaran tentang kesadaran moral yang tidak memadai, modeling dan penguatan langsung terhadap perilaku antisocial, pengaruh newgatif dari anak-anak sebaya dan tinggal di wilayah pemukiman miskin dengan angka tindak kejahatan tinggi. Pendekatan yang paling menjajikan dalam menangani anak-anak muda dengan gangguan tingkah laku mencakup intervensi intensif dalam banyak system, termasuk keluarga, sekolah, dan system pergaulan dengan anak-anak seusia.
• Gangguan perkembangan belajar didiagnosis bila seseorang anak tidak mampu berkembang hingga ke kadar yang sesuai dengan tingkat intelektualnya dalam bidang akademis tertentu, bahasa atau ketrampilan motorik.
• Criteria diagnostic tradisional untuk retardasi mental adalah fungsi intelektual dibawah rata-rata dan kurangnya perilaku adaptif, dengan onset sebelum 18 tahun. Namun, analisis kontemporer lebih memfokuskan pasa berbagai kekuatan individu dengan retardasi mental dan bukan pada penempatan mereka dalam kadar keparahan tertentu.
• Bentuk retardsi mental yang lebih parah memiliki basis biologis, seperti trisomo kromosom menyebabkan sindroma down. Beberapa penyakit infeksi tertentu yang dialami ibu hamil, seperti HIV, rubella dan sifillis serta penyakit yang langsung mempengaruhi anak, seperti ensefalitis, dapat menghambat perkembangan kognitif dan social, seperti juga malnutrisi, jatuh yang fatal, dan kecelakaan mobil yang mencederai otak. Factor-faktor lingkungan dianggap sebagai penyebab utama retardasi mental ringan.
• Para peneliti berusaha mencegah retardasi ringan pada anak-anak yang beresiko mengalaminya karena kondisi serba kekurangan dengan memberikan pelatihan khusus prasekolah dan berbagai kesempatan social.
• Gangguan autistic, salah satu gangguanperkembangan pervasive, berawal sebelum usia dua setengah tahun. Simtom-simtom utamnya adalah ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain, berbagaai masalah komunikasi, mencakup kegagalan untuk mempelajari bahasa atau ketidak wajaran bicara, seperti ekolalia dan pembalikan kata ganti; dan mempertahankan kesamaan, suatu keinginan obsesiv untuk mempertahankan rutinitas sehari-hari dan lingkungan sekelilingnya selalu sama persis.
• Gangguan autistic pada awalnya diyakini sebagai akibat dari ketidakhangatan dan pengambilan jarak oleh orangtua dan penolakan mereka terhadap anak-anak mereka, namun berbagai penmelitian mutakhir tidak memberikan bukti apapun terhadap teori semacam itu.
• Penangan yang paling menjanjikan untuk autism adalah penangan yang berciri psikologis, melibatkan prosedur modeling dan pengondisian operant. Meskipun prognosis anak-anak autistic secara umum tetap buruk, penelitian mutakhir manunjukkan bahwa penangan behavior intensif yang melibatkan orangtua sebagai terapis anak-anak mereka dapat memungkinkan beberapa anak tersebut berpartisipasi dengan penuh makna dalam hubungan social yang normal.

























Daftar Pustaka

Davison, Gerald C., dkk. 2006. Psikologi Abnorma (jilid dua). Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Nevid, Jeffrey S dkk. 2006. Psikologi Abnormal. Jakarta : Penerbit Erlangga.
www. puterakembara.com

Minggu, 26 September 2010

PSIKODIAGNOSTIKA (II) (Observasi)

Oleh: Yuli Fajar Susetyo
Amitya Kumara
MATERI KULIAH OBSERVASI
1. Definisi, tujuan, Manfaat, Kelebihan dan Kelemahan,
2. Observer, proses observasi, dan objektivitas data observasi
3. Observasi sehari-hari dan observasi ilmiah, dan observasi sebagai alat psikodiagnotik
4. observasi sistematik-non sistematik, Partisipan-non partisipan, Eksperimental-natural
5. Pencatatan hasil observasi dan praktek
6. Strategi observasi jenis naratif
7. Strategi observasi Event sampling dan time sampling
8. Strategi observasi Check lists dan rating scales
9. Pengolahan dan interpretasi data observasi
10. Penutup : penyajian data observasi dan review

OBSERVASI dalam PSIKODIAGNOSTIKA
Berkaitan dengan proses penyelidikan untuk mengidentifikasi dan memahami variabel psikologis untuk penegakan diagnosis psikologis
Ada proses pengukuran dan penggunaan berbagai teknik untuk mampu memahami dan mendiagnosis variabel psikologis
Psikodiagnostik bukan hanya milik psikologi klinis, walapun istilah diagnosis didominasi di psikologi klinis.
Mengapa Perlu Observasi bagi Psikolog
Goodwin & Driscoll (dalam Bentzen, 1993)
 Memungkinkan mengukur perilaku yang tidak dapat dengan alat ukur psikologis lain (banyak pada anak)
 Prosedur formal ditanggapi tidak serius (tidak dapat dilakukan)
 Lebih tidak mengancam (pada anak lebih akurat)
Kegunaan observasi dalam psikodiagnostik
 Keperluan asesmen awal
 Menentukan kekuatan observee dan menggunakannya untuk meningkatkan hal-hal yang masih lemah
 Dasar merancang rencana individual
 Dasar dari titik awal kemajuan klien
 Mengetahui perkembangan anak pada area tertentu
 Untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan anak
 Bahan untuk memberi laporan kepada orang tua, guru, dokter, dan profesi lain
 Informasi status anak/remaja di sekolah untuk keperluan BK
 Informasi status klien klinis (di rumah sakit jiwa)
TUGAS
 Carilah objek observasi :
 Fisik
 Manusia (individu)
 Kelompok
 Catatlah hasil amatan Anda
 Apa makna amatan tersebut?
 Apa kesimpulan Anda?
PRO DAN KONTRA
 Patton (1990) persepsi selektif manusia menyebabkan munculnya keragu-raguan terhadap validitas dan reliabilitas observasi sebagai suatu metode pengumpulan data ilmiah.
 Dia menjelaskan pengaruh persepsi selektif yang diwarnai bias dan minat pribadi terjadi pada kebanyak orang awam yang tidak terlatih untuk dapat disebut sebagai peneliti terlatih
 Agar dapat menjadi metode yang akurat maka harus dilakukan oleh peneliti yang melewati latihan-latihan yang memadai dan telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap.
- Observasi
Definisi dan deskripsi umumIstilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul , dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut.
- Sebagai metode yang paling dasar dan paling tua, dasar karena dalam setiap aktivitas psikologi ada aspek observasi
- Semua bentuk penelitian kualitatif dan kuantitatif mengandung aspek obsevasi
- Dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) maupun dalam konteks alamiah (Banister, 1994)
 PENGERTIAN Observasi
Metode pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala objek yang diteliti
 Pengertian sempit
Pengamatan secara langsung terhadap gejala yang diselidiki baik dalam situasi alamiah maupun situasi buatan
 Pengertian luas
Termasuk pengamatan yang dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan alat-alat bantu yang sudah dipersiapkan sebelumnya maupun yang diadakan khusus untuk keperluan tersebut.
TUJUAN OBSERVASI
mendeskripsikan seting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian yang dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati.
PENTINGNYA OBSERVASI, Patton (1990)
1. peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks
2. Peneliti lebih bersikap terbuka, berorientsai pada penemuan daripada pembuktian, dan mendekati masalah secara induktif. Pengaruh konseptualisasi (yang ada sebelumnya) ttg topik yang diamati berkurang
3. Peneliti dapat melihat hal-hal yang oleh partisipan kurang disadari atau partisipan kurang mampu merefleksikan pemikiran tentang pengalaman itu
4. Memperoleh data tentang hal-hal yang tidak diungkapkan secara terbuka dengan wawancara
5. Mengatasi persepsi selektif dan peneliti dapat bergerak lebih jauh
6. Memungkinkan peneliti merefleksi & bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi & perasaan pengamat menjadi bagian untuk memahami fenomena
Apa yang diobservasi
 Berdasarkan tujuan / variabel yang menjadi target
 Ekspresi verbal, non verbal, respons verbal/non verbal/perilaku terhadap stimulus, atau kemunculan indikator khusus
 Level observasi dapat aspek khusus dari perilaku, individu, kelompok, dan situasi/proses
 Waktu (kapan, kecepatan, durasi), lokasi (tempat), penampakan eksterior (cara jalan, berpakaian), gaya bahasa (intonasi, pilihan kata)
Webb dkk (1966) & Denzin (1970) Yang diobservasi :
Exterior physical signs : pakaian, gaya rambut, sepatu, tato, rumah, perhiasan dll
Expressive movements : gerakan-gerakan tubuh seperti gerakan mata, wajah, postur, lengan, senyum, kerutan dahi dll
Physical location : perhatikan personal space dan lingkungan fisik
Language behaviour : menyilangkan kaki dll
Time duration
Diterapkan pada kelas sosial, status, jender, dan sikap sosial
Reliabilitas & Validitas
 Reliabilitas : Metode yang reliabel, metode yang digunakan orang lain dalam kondisi yang sama akan menunjukkan hasil yang sama atau serupa. Perlunya reliabilitas antar rater
 Valisitas : keakuratan/keterpercayaan seberapa tepat metode mengukur apa yang diukur. Validitas tidak intrinsik ada pada metode karena dapat lebih dihubungkan dengan problem yang diteliti. Contoh Untuk meneliti tentang kelas sosial lebih valid dengan wawancara daripada observasi mobil yang dipakai
ETIKA OBSERVASI
 Privacy subjek
 Keamanan subjek
 Persetujuan subjek
 Perlindungan terhadap kenyamanan dan keamanan
 Proses diseminasi informasi kepada para profesional dan komunitas ilmuwan
 Pencegahan kecuragan dan penipuan terhadap subjek, kelompok atau masyarakat
 Penggunaan oleh dirinya dan pihak lain dengan maksud negatif
Pertimbangan diatas diterapkan pada 3 tahap penelitian yaitu rencangan penelitian, proses di lapangan, dan penulisan-publikasi
JENIS OBSERVASI

OBSERVASI SISTEMATIK
 Disbt juga observasi terstruktur; ada kerangka yang memuat faktor-faktor dan ciri-ciri khusus dari setiap faktor yang diamati
 Sistematik : lebihmenekankan pada segi frekuensi dan interval waktu tertentu (misalnya setiap 10 menit)
 Hal perlu diperhatikan :
 Isi dan luas observasi lebih terbatas, sesuai rumusan khusus
 Memungkinkan respons dan peristiwa dicatat secara lebih teliti, dan mungkin dikuantifikasikan
 Dapat menggunakan one way screen
OBSERVASI EKSPERIMENTAL
 Dilakukan dengan cara mengendalikan unsur-unsur penting ke dalam situasi sedemikian rupa sehingga situasi tersebut dapat diatur sesuai dengan tujuan riset dan dapat dikendalikan untuk mengurangi atau menghindari bahaya timbulnya faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi situasi
 Ciri penting :
 Observee dihadapkan pada situasi perangsang yang dibuat seragam atau berbeda
 Situasi dibuat sedemikian rupa untuk memunculkan variasi perilaku
 Situasi dibuat sedemikian rupa sehingga observee tidak mengetahui maksud observasi
OBSERVASI PARTISIPAN
 Orang yang mengadakan observasi turut ambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang diobservasi
 Umumnya untuk penelitian yang bersifat eksploratif. Menyelidiki perilaku individu dalam situasi sosial seperti cara hidup, hubungan sosial dalam pabrik-penjara dll
 Perlu diperhatikan :
 Materi observasi disesuaikan dengan tujuan observasi
 Waktu dan Bentuk pencatatan : segera setelah kejadian dg kata kunci. Kronologis – sistematis
 HUbungan : mencegah kecurigaan, pendekatan yang baik dan menjaga situasi tetap wajar
 Kedalaman partisipasi tergantung pada tujuan dan situasi
TINGKAT PARTISIPASI
 Partisipasi lengkap (penuh)
 Anggota penuh
 Partisipasi fungsional
 Aktivitas tertentu bergabung
 Partisipasi sebagai pengamat
Obtrusive dan unobtrusive
 Unobstrusive measures - unobstrusive methods – non reactive methods
 Metode tidak mengganggu lingkungan sosial, tidak terlibat dengan penduduk, tanpa berinteraksi dengan subjek melalui pertanyaan atau perlakuan lainnya.
 Termasuk un obtrusive methods: tulisan dan rekaman audio visual, materi budaya (objek fisik), jejak-jejak perilaku, arsip pekerjaan, pakaian atau benda lain di musium, isi dari buku-buku di perpustakaan, observasi sederhana, hardware techniques; kamera, video dll, rekaman politik dan demografi
 Obtrusive : wawancara, kuesioner, eksperimen manipulatif, tes
 “Contrived“ observation
Menggunakan perangkat keras seperti kamera, tape recorders, one way mirrors dll.
 Experimental manipulation dipandang sebagai non reactive jika tidak disadari oleh subjek (Bochner, 1979) vs sisi etika observasi
OBSERVASI FORMAL DAN INFORMAL
(Goodwin & Driscoll, 1980)
 Observasi formal mempunyai sifat tersruktur yang tinggi, terkontrol dan biasanya untuk penelitian
 Observasi formal perlu mengidentifikasi definisi secara hati-hati, menyusun data, melatih obsrerver dan menjaga reliabilitas antar rater, pencatatan-analisis-interpretasi menggunakan prosedur yang sophisticated.
 Observasi in formal mempunyai sifat yang lebih longgar dalam hal kontrol, elaborasi, sifat terstruktur, dan biasanya untuk perencanaan pengajaran dan pelaksanaan program harian. Lebih mudah dan lebih berpeluang untuk digunakan pada berbagai keadaan.
 Observasi informal sering disebut juga naturalistic observation (lho menopo hubunganipun kalian observasi yang non eskperimental?)
Observasi Partisipan & Observasi Unobstrusif
Observasi partisipan : peneliti berinteraksi dengan subjek yang dipelajari dan melakukan observasi dalam interaksi tersebut, dan biasanya sebagai bagian dari proses wawancara dan menggunakan informan
Observasi dengan observer yang tidak menampakan diri (penyembunyian diri) dan memisahkan diri dari yang diobservasi
Keuntungan
 Data “nyata“ bukan perilaku yang dilaporkan
 Aman
 Mungkin untuk diulang
 Tanpa mengganggu
 Mudah diakses dan dilakukan
 Mudah
 Baik sebagai sumber data longitudinal
Kelemahan
 Distorsi dari data asli, terutama sumber berupa arsip
 Decontextualising (emic-ingroup/etic-outsider)
 Peran Intervening variable
 Bias dari metode tunggal
 Keterbatasan wilayah terapan
Observasi Dipandang Ilmiah, Jika : (Jehoda)
 Mengabdi pada tujuan penelitian yang telah ditetapkan
 Direncanakan secara sistematik, bukan kebetulan dan tidak beraturan
 Dicatat secara sistematik dan dihubungkan dengan proposisi yang lebih umum, tidak sekedar memenuhi rasa ingin tahu
 Dapat dicek dan dikontrol validitas dan reliabilitasnya

Larah-larahipun mekaten den !
 Narrative types
pengumpulan (pencatatan) data oleh observer apa adanya sesuai (sama) dengan kejadian dan urutan kejadiannya sebagaimana yang terjadi pada situasi nyata.
 Checklist notations
Observer menyusun struktur observasi dengan memilih dan mendefinisikan perilaku sebelum observasi dilaksanakan sehingga ketika observasi tinggal memberi tanda cek
 Rating scales
Observer membuat interpretasi terhadap apa yang diamati dan informasi direkam dengan sebagai refleksi dari penilaian observer
Salajengipun mekaten !
 Diary descriptions :
Pengamatan (pencatatan) perubahan-perubahan pada perkembangan perilaku secara umum atau perilaku spesifik sesuai tujuan observasi seperti perkembangan bahasa dll. Membutuhkan waktu yang panjang dan frekuensi kontak yang banyak
 Specimen descriptions (desriftif naratif, running records)
Pengamatan yang detail dan lengkap, intensif dan kontinyu dengan pencatatan naratif sekuensial terhadap episode tunggal dari perilaku dan keadaan lingkungannya.
 Time sampling
Pengamatan seperti specimen descriptions terhadap perilaku tertentu (sesuai tujuan observasi) pada interval waktu tertentu yang telah ditentukan (biasanya frekuensi kejadian perilaku)
 Event sampling
Pengamatan yang berfokus pada pencatatan kejadian perilaku-perilaku penting yang diamati pada situasi tertentu
 Field unit analysis
Ada kesamaannya dengan specimen records, tapi metode ini mengkaitkan perilaku-perilaku yang terjadi pada pengamatan ke dalam unit-unit perilaku yang sudah disusun dan menyediakan fasilitas on the spot coding.
Checklist
 Observer menyusun struktur observasi dengan memilih dan mendefinisikan perilaku sebelum observasi dilaksanakan sehingga ketika observasi tinggal memberi tanda cek
 Melihat kehadiran perilaku yang dianggap penting
 Tidak memberikan informasi tentang frekuensi, durasi, dan kualitas perilaku
 Digunakan pada time sampling, event sampling
KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN
Keunggulan
 Strategi yang sederhana dan relatif mudah
 Merekam dengan cepat dan efisien, kebutuhan energi observer minimum
 Ketrampilan yang dibutuhkan dari observer relatif lebih sederhana
 Seteleh dilakukan check terhadap perilaku dapat ditambahkan catatan tertentu
 Mudah diolah dalam lembar komputasi (dan proses kuantifikasi)
Kelemahan
 Informasi terlalu sedikit
 Informasi kurang mendalam
 Tidak ada informasi tentang bagaimana (kualitas, durasi, frekwensi)
PANDUAN CHECKLIST
 Tentukan tujuan observasi
 Tentukan definisi operasional perilaku
 Tentukan content perilaku yang akan diobservasi
 Susun checklist berdasarkan content perilaku sebelum observasi dilakukan
 Identifikasi secara detail content perilaku
 Organisasi detail content perilaku harus logis
 Organisasi checklist harus dapat mencapai tujuan : identifikasi kehadiran/ketidakhadiran target perilaku dan merekam perkembangan kronologis (munculnya ketrampilan tertentu)
 Gunakan cheklist untuk melihat kehadiran perilaku target
Dua tipe checklist
 Static descriptor
 Seperangkat aitem yang mendeskripsikan karakteristik subjek atau setting yang relatif stabil : umur, jenis kelamin, ras, status ekonomi, karakteristik lingkungan, dan waktu
 Action
 Seperangkat aitem yang mendeskripsikan perilaku/tindakan spesifik observee
Rating scales
Observer membuat interpretasi terhadap apa yang diamati dan informasi direkam dalam bentuk nilai tertentu (angka) sebagai refleksi dari penilaian observer
Observer membuat interpretasi terhadap apa yang diamati dan informasi direkam dalam bentuk nilai tertentu (angka) sebagai refleksi dari penilaian observer
DESKRIPSI RATING SCALES
 Didesain untuk mengukur kuantifikasi impresi dari pengamatan
 Penilaian kuantitatif tentang tingkat terjadinya perilaku atau bagaimana perilaku ditampakan
 Menjadi mudah dan cepat untuk memaknakan kesimpulan dari impresi yang didapatkan
 Dapat mengukur ciri sifat dan perilaku yang tidak dapat diungkap oleh strategi lain
 Metode asesment > metode deskriptif
 Dapat sebagai perekaman on the spot, ada yang tidak
TIPE RATING SCALES
 Numerical : angka tertentu dikaitkan dengan nilai tertentu dari perilaku
1 = Perilaku mengganggu, meninggalkan kelompok
2 = Perilaku mengganggu tidak tampak
3 = Mengikuti guru, tatapan mengarah ke guru
4 = Mengikuti guru, ekspresi menunjukkan ketertarikan
5 = Mengikuti guru, melaksanakan instruksi
 Graphic : Kemunculan perilaku tertentu dinilai berdasarkan rentang penilaian yang bersifat meningkat (bentuk garis lurus)
Selalu Sering Kadang Jarang Tidak pernah
kadang
 Semantic differential (termasuk grafik) dengan tujuh unit penilaian pada perilaku yang bipolar
1 2 3 4 5 6 7
Aktif Pasif
Bersahabat Bermusuhan

 Standart
Penilai dihadapkan pada satu set standar untuk menilai yang lain
 Cumulated points
Penilaian didasarkan pada akumulasi terhadap penilaian unit-unit perilaku tertentu
 Forced-choice
Rater dihadapkan pada satu set deskripsi kualitas tertentu dan memilih satu yang sesuai dengan hasil pengamatan
6 FAKTOR POTENSIAL RATER ERRORS
 Error of leniency
 Error of central tendency
 Hallo effect
 Error of logic
 Error of contrast
 Proximity error
 KEUNTUNGAN
 Efisiensi waktu
 Lebih menarik bagi observer
 Lebih mudah diskor dan dikuantifikasi (statistik)
 Dapat mengukur perilaku lebih luas termasuk trait
 Dapat membandingkan antar individu dan intraindividu
 Membutuhkan minimum training
 Memfasilitasi melihat hubungan realita dan persepsi individu (rating guru dan DO)
 KELEMAHAN
 Peluang error dan bias cukup besar
 Ambiguitas aitem
 Pengaruh penerimaan sosial
 Kurang bercerita tentang penyebab perilaku
SIAP LETNAN?
 Pernyataan pendek, simple, dan tidak ambigu
 Berhubungan dengan trait yang akan diungkap
 Pilih kata yang berhubungan dengan skala (tidak overlap dengan deskripsi)
 Hindari penggunaan pernyataan seperti average, excellent, dan very
 Hindari pernyataan yang mengandung unsur baik-buruk
 Nilai semua individu pada satu trait sebelum ke trait lainnya
 Lebih baik jika kita tidak kenal
 Lakukan dengan hati-hati
Time sampling
Pengamatan terhadap perilaku tertentu (sesuai tujuan observasi) pada interval waktu yang telah ditentukan (biasanya kemunculan perilaku, frekuensi, dan durasi)
Deskripsi Time Sampling
 Subjek diobservasi pada periode waktu tertentu yang relatif pendek, dan perilaku yang diperoleh dipandang sebagai sampel dari perilaku yang biasa terjadi (Goodenough).
 Efektif pada perilaku yang cukup sering muncul karena perilaku diamati selama periode waktu tertentu yang pendek . Arrington (1943) ; minimal 15 menit sekali.
 Time sampling sebaiknya digunakan untuk overt behavior
 Variasi penggunaan time sampling:
 Mengukur frekuensi kemunculan perilaku. Mencatat setiap perilaku yang muncul selama interval waktu tertentu.
 Mengukur kemunculan perilaku. Satu atau 5 kali selama interval waktu 5 menit dalam pengamatan dengan tanda cek satu.
 Mengukur durasi ( berapa lama) perilaku terjadi dalam frame waktu tertentu.
NB : Yang perlu dipertimbangkan adalah : panjang interval, jarak antar interval, dan jumlah interval waktu.
 Subjek diobservasi pada periode waktu tertentu yang relatif pendek, dan perilaku yang diperoleh dipandang sebagai sampel dari perilaku yang biasa terjadi (Goodenough).
 Efektif pada perilaku yang cukup sering muncul karena perilaku diamati selama periode waktu tertentu yang pendek . Arrington (1943) ; minimal 15 menit sekali.
 Time sampling sebaiknya digunakan untuk overt behavior
 Variasi penggunaan time sampling:
 Mengukur frekuensi kemunculan perilaku. Mencatat setiap perilaku yang muncul selama interval waktu tertentu.
 Mengukur kemunculan perilaku. Satu atau 5 kali selama interval waktu 5 menit dalam pengamatan dengan tanda cek satu.
 Mengukur durasi ( berapa lama) perilaku terjadi dalam frame waktu tertentu.
NB : Yang perlu dipertimbangkan adalah : panjang interval, jarak antar interval, dan jumlah interval waktu.
Kelemahan Time sampling Kerlinger (1973)
 Kehilangan gambaran kontinyuitas
 Kehilangan konteks
 Kehilangan sifat-sifat natural.
Panduan Time Sampling
 Definisi operasional overt behavior harus jelas dan dipahami semua yang terlibat (observer)
 Tetapkan tujuan observasi dengan jelas sehingga dapat membuat struktur time sampling dengan jelas, antara lain :
 Jumlah subjek yang dibutuhkan
 Fokus observasi pada hasil yang menekankan pada perilaku individu atau kelompok
 Seberapa banyak observasi akan dilakukan agar sample representatif
 Tetapkan informasi apa yang dibutuhkan untuk direkam : apakah kemunculan perilaku, frekuensi perilaku atau durasi.
 Tetapkan interval waktu yang digunakan :
 Penentuan panjang interval didasarkan pada frekuensi kehadiran perilaku, dan interval minimum kemunuculan satu perilaku
 Jeda antar interval waktu (spacing), tergantung pada panjang interval dan detail yang direkam (misalnya berapa katergori) atau tanpa jeda .
 Jumlah total interval yang dibutuhkan pada setiap subjek tergantung pada terpenuhinya sample perilaku yang representative.

Contoh Rancangan Observasinipun mekaten !
Seorang psikolog yang tertarik dengan permasalahan anak di sekolah, dan ingin mendapatkan informasi spesifik, dia dapat , mengobservasi anak pada 5 menit pertama tiap jam, dan focus pada perilaku ketika ada tugas dan tanpa tugas.
Dia dapat mengobservasi dengan beberapa pilihan :
 Mengobservasi 5 menit pertama setiap jam (dapat memberi informasi selama satu hari tapi tidak mendapatkan gambaran pada aktivitas yang berbeda)
 Mengobservasi 5 menit pertama pada tiap aktivitas terpilih (dapat dibandingkan antar aktivitas)
 Memilih satu atau lebih aktivitas dan mengobservasi selama 10-15 menit untuk mendapatkan gambaran pada ke dua jenis situasi
PERBANDINGAN TIME SAMPLING DAN EVENT SAMPLING
 Kesamaan dengan time sampling adalah sampel perilaku
 Time sampling focus pada waktu tertentu, event sampling focus pada perilaku itu sendiri.
 Time sampling focus pada eksistensi dari event, sedangkan event sampling focus pada eksplorasi dari karakteristik event.
 Pada event sampling, obserber menunggu kemunculan perilaku yang dipilih kemudian merekamnya. Tidak ada batasan waktu, focus ada pada perilaku itu sendiri dan waktu adalah sebagai akibat dari durasi normal dari peristiwa. Rentang perilaku-perilaku yang diamati dibatasi
 pada event sampling, waktu yang dibutuhkan tidak dapat ditentukan seperti pada time sampling.
 Time sampling focus pada frekuensi dan durasi guru berbicara dibandingkan siswa berbicara, maka event sampling focus pada kepada siapa guru berbicara, dan apa penyebab dan hasil dari perilaku tersebut.

Event sampling
Pengamatan yang berfokus pada pencatatan kejadian perilaku-perilaku penting yang diamati pada situasi tertentu
KEUNGGULAN EVENT SAMPLING
 Efisien untuk mengurangi waktu observasi
 Dapat dirangkum dan dianalisis statistik dengan mudah.
Panduan Event sampling
1. Identifikasi dan susun definisi operasional perilaku yang akan diobservasi dengan jelas
2. Ketahui secara umum dimana dan kapan perilaku dapat terjadi
3. Tentukan jenis informasi yang akan direkam. (dapat menggunakan pencatatan naratif maupun kategoris. Misalnya pada studi tentang pertengkaran tadi adalah berapa lama terjadi, apa yang terjadi ketika pertengkaran dimulai, jenis perilaku dalam pertengkaran, apa yang dilakukan dan dikatakan, apa akibatnya, dan apa yang terjadi setelah pertengkaran.
4. Susunlah lembar pencatatan semudah mungkin
Contoh observasi event sampling dilakukan oleh Helen C. dawe (1934)
 Observasi pada natural setting, observasi pada 200 pertengkaran anak TK. Penyelidikan diarahkan pada pertengkaran spontan selama bermain bebas pada sekolah TK dari 19 oktober 1931 sampai 17 pebruari 1932. Subjek adalah 19 perempuan dan 21 laki-laki. Berumur 25-60 bulan.
 Proses observasi : Observer menunggu pertengkaran terjadi, ketika terjadi stopwatch diaktifkan, dan mengamati apa yang terjadi, ketika pertengkaran selesai maka stopwatch dimatikan. Yang disiapkan adalah blangko pengamatan yaitu nama subjek, umur dan jenis kelamin anak yang terlibat, durasi pertengkaran, problem yang menyebabkan pertengkaran, perilaku yang terjadi,. Setelah kejadian observer menuliskan secepatnya apa yang diingat.
 Hasil Analisis data :
 dari 58.75 jam observasi, terjadi 200 pertengkaran, dengan rata-rata 3.4 perjam
 68 pertengkaran terjjadi di luar ruangan, dan 132 di dalam ruangan
 Hanya 13 yang lebih dari 1 menit
 Laki-laki lebih sering bertengkar dari perempuan.
 Penyebab pertengkaran adalah perselisihan terkait dengan kepemilikian benda
 Anak-anak yang terlibat pertengkaran cepat berbaikan kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

 STRATEGI CATATAN HARIAN
 DAN ANECDOTAL RECORDS
CATATAN HARIAN
 Teknik pengamatan yang merekam perubahan atau perkembangan baru atau perilaku baru pada subjek pengamatan.
 Aitemisasi perubahan perilaku.
 Pengamat mencatat secara langsung pada saat kejadian atau sesegera mungkin setelah kejadian setiap hari sehingga membutuhkan interaksi yang tetap dan berlangsung lama
KELEBIHAN DAN KETERBATASAN
Kelebihan
1. Memberikan gambaran Proses perubahan/perkembangan seiring waktu secara jelas dan detail
2. Merupakan gudang data
yang kaya
Kritik/Kelemahan metode ini adalah
(William Stern):
 Bias seleksi : kehilangan keterwakilan sifat-sifat fakta
 Bias observasi :
 Reliabilitas pencatatan
 Objektivitas interpretasi
 Keterbatasan Kasus untuk generalisasi
 Waktu dan sumber daya terlalu banyak : dalam rentang tertentu dan tiap hari melakukan pengamatan (tidak efisien)
Penggunaan Diary Descpriptions
Studi kasus
Digunakan untuk menyelidikan anak-anak atau kasus yang “spesial’’
Studi ethologis
Penelitian pada binatang yang tidak dapat berbicara, yang hasilnya dapat diterapkan pada manusia
Langkah-langkah dalam Diary descriptions
 Tentukan target perilaku yang akan diamati (dapat perilaku umum, atau aspek khusus, misalnya perilaku terkait dengan merokok)
 Tentukan subjek pengamatan dan panjang pengamatan (sebagai latihan selama 1 minggu)G
 Siapkan jurnal atau pencatatan harian
 Format pencatatan hasil pengamatan
 Tanggal, waktu, setting-lokasi, objek observasi, umur
 Deskripsi anak dan setting observasi dilakukan
 Temuan perilaku beserta waktu kejadian dalam pengamatan (harian) dapat dilengakapi dengan kolom catatan-catatan khusus
 Rangkuman temuan selama satu minggu
 Pengolahan hasil pengamatan (generalisasi)
 Deskripsi ringkas aktivitas dan informasi yang relevan untuk memahami setting
 Deskripsi objek observasi dan bagaimana perilakunya
 Susun pernyataan yang tepat untuk generalisasi pada populasi (karakteristik yang sama (umum dsb) berdasarkan performansi objek observasi)
 Pilih 2 objek lain yang mempunysai umur sama dan catat performansi mereka dengan prosedur yang sama (deskripsi objek 1, deskripsi objek 2)
 Identifikasi perbedaan-perbedaan yang terjadi pada objek tersebut pada aktivitas yang sama
 Identifikasi pesamaan-persamaan yang muncul
 Apa generalisasi yang akan dibuat setelah mengamati ketiga anak.
ANECDOTAL RECORDS
 Persamaan dengan diary adalah menggunakan pencatatan naratif.
 Perbedaannya tidak focus pada hanya satu anak atau kelompok, dan tidak terbatas pada kemunculan perilaku baru.
 Melaporkan apapun yang terjadi dan penting bagi pengamat kapan saja perilaku terjadi, pada orang yang berbeda dan waktu yang berbeda.
 Tidak membutuhkan spesifikasi waktu tertentu tetapi dapt dilakukan kapanpun ketika perilaku yang penting/menarik muncul, tidak tergantung pada setting atau lingkungan tertentu dan dapat dilakukan dimanapun. Tidak mensyaratkan kode khusus atau kategori atau diagram dapat ditulis secara sederhana pada buku catatan
 Beberapa variasi :
 Bersifat tematik : misalnya perilaku imitasi anak pada orang dewasa, akan menggambarkan bagaimana perilaku meniru terjadi
 Bersifat interval (periode waktu tertentu : tidak focus pada tema tertentu tetapi akan melakukan pencatatan terhadap perilaku yang muncul pada periode waktu tertentu)
 Pencatatan akumulasi terjadinya perilaku tertentu untuk dianalisis
 Contoh penggunaan :
Membantu guru dalam mengetahui keadaan siswa pada tahun pertama sekolah. Jika guru mencatat secara teratur kejadian tertentu selama satu tahun maka ia akan dapat melakukan asesmen kemajuan, identifikasi perubahan tingkat pemahaman dan kesulitan yang ditemui.
• Tiga kegunaan lain : menguji dugaan tentang alasan perilaku atau gaya belajar anak, mengidentifikasi kondisi yang memperkuat perilaku, dan mendapatkan umpan balik tentang apa yang dipelajari anak dari unit kurikulum,
• Untuk mendapatkan informasi, menguji ide/dugaan, dan mengevaluasi kemajuan
Panduan Anecdotal record Brandt (1972)
1. Tuliskan secara berurutan anekdot yang muncul sesegera mungkin setelah terjadi
2. Identifikasi aktivitas utama dan perkataan dari orang kunci
3. Sertakan pernyataan tentang setting, waktu, dan aktivitas utama (ketika sebuah mobil sedang melewati.......)
4. Dekripsikan tindakan atau verbalisasi tokoh utama, dan respon atau reaksi dari orang lain dari situasi itu
5. Jika munkgin catat dengan tepat kata-kata yang muncul pada percakapan
6. Deskripsikan sesuai seperti urutan kejadian pada satu episode kejadian
7. Tiga level tindakan yang harus dicatat adalah :
 Molar behavior (deskripsi perilaku/aktivitas utama) , “Ellen dan Mollen bermain puzzle di meja“
 Sub ordinat molar unit (deskripsi unit perilaku/aktivitas yang lebih kecil), “Ellen bermain puzlle rumah sakit 3 kali, sedangkan Mollen setelah selesai satu puzzle beralih ke puzzle bentuk lain“.
 Molecular units (deskripsi bagaimana perilaku/aktivitas utama dilakukan, gambaran kualitatif dari anecdot),“Ellen meletakkan dengan hati-hati sambil bersenandung lirih. Kadang berjalan mondar mandir“
8. Objektif, akurat dan lengkap
Contoh anecdotal records
 232# Charlie Umur 3 tahun. Charlie bermain di rumah denan adik perempuannya. Dia berkata bahwa dia adalah ayah. Dari dapur, saudara perempuannya yang lebih tua memberinya beberapa roti karena saudarnaza tahu ia sangat suka. Ia mengatakan “apa yang akan aku lakukan dengan roti ini sekarang) Dia melanjutkan. lelaki tidak akan makan kecuali ketika lapar. Setelah 10 menit berlalu ia datang dan berkata ke sarah, “Dapatkah saya memperoleh roti sekarnang”. “Saya bukan ayah, Saya charlie“.
 334# Harlan ......
CONTOH TERAPAN OBSERVASI
Psikologi Klinis
- Identifikasi simtom dari gangguan
- Identifikasi tingkat gangguan
- Pendukung dalam proses konseling
- Evaluasi kemajuan terapi / konseling
- Pendukung dalam proses psikotes : projektif individual
- Bersama-sama dengan wawancara pada in take interv. dan konseling
- dll
BIDANG PERKEMBANGAN
 Identifikasi kemunculan gejala/simtom yang muncul dari gangguan/permasalahan perkembangan (khususnya anak)
 Identifikasi level gangguan perkembangan
 Identifikasi tingkat perkembangan anak
 Evaluasi hasil terapi atau intervensi pada anak
CONTOH TERAPAN OBSERVASI DALAM PIO
 Studi ergonomika, contoh penelitian tentang peralatan militer mungkin di simulasikan
 Seleksi dan asesmen kepribadian, ada intervensi perlakuan kemudian dilihat bagaimana perilaku peserta
 Analisis jabatan, natural tanpa intervensi
 Identifikasi kebutuhan training
 Pemantauan perilaku dalam proses training (terutama out bound)
CONTOH TERAPAN OBSERVASI DALAM BIDANG PENDIDIKAN
 Penelitian studi kelayakan kebijakan pendidikan
 Penelitian evaluasi kebijakan
 Penelitian tindakan kelas oleh guru
 Penilaian kemampuan mengajar
 Evaluasi hasil belajar
 Asesmen awal kemampuan siswa
 Identifikasi permasalahan siswa: belajar dan pribadi
 Monggo dipun padosi piyambak nggih
TERAPAN DI BIDANG PSIKOLOGI SOSIAL
Studi Pemetaan masalah sosial dan kecenderungan masyarakat *
Studi kancah masalah sosial * : agresivitas masyarakat, pelacuran, anak jalanan, tawuran.
Studi perilaku manusia dalam situasi sosial * : perempatan, perilaku menolong (eksperimental – partisipan)
Evaluasi penderitaan korban : kasus rifka anisa dll
Identifikasi kebutuhan intervensi sosial
dll
PENGOLAHAN DATA
untuk menuju kesimpulan
 Pengolahan data akan berbeda sesuai konteks penggunaan metode ; penelitian vs psikodiagnostik
 Pada konteks penelitian biasanya menggunakan beberapa metode, proses pengolahan data lebih rumit
 Pengolahan data pada observasi sebagai metode tunggal berbeda dengan penggunaan berbagai metode pengumpulan data
 Pada konteks psikodiagnostik proses secara umum lebih sederhana dan tergantung keperluan
BENTUK DATA HASIL OBSERVASI (monggo dipun kritisi)
 Angka (kuantifikasi hasil observasi)
 Checklist : frekuensi
 Rating scales : skor
 Time sampling : frekuensi,durasi
 Desripsi naratif
 Catatan harian
 Anecdotal records
 Event sampling
 Dokumen tertulis dan tidak tertulis
 Un obstrusive
 Catatan harian/anecdotal records dll. orang lain
Pemaparan Hasil Observasi (Patton, dalam Poerwandari, 1998)
 Mempresentasikan secara kronologis peristiwa yang diamati, mulai dari awal hingga akhir
 Mempresentasikan insiden-insiden kritis atau peristiwa kunci, berdasarkan urutan kepentingan insiden tersebut
 Mendeskripsikan setiap tempat, setting dan atau lokasi yang berbeda sebelum mempresentasikan gambaran dan pola pada umumnya
 Fokuskan analisis pada individu-individu atau kelompok-kelompok
 Mengorganisasi data dengan menjelaskan proses-proses yang terjadi (proses komunikasi dll)
 Memfokus pengamatan pada isu-isu kunci yang diperkirakan menjawab tujuan observasi/penelitian
Organisasi data
 Data banyak dan berasal dari berbagai cara pengumpulan data.
 Proses sederhana yang dilakukan adalah menyusun, mengelompokan, dan menghimpun data sesuai dengan tujuan penelitian dengan rapi, sistematis dan selengkap mungkin.
 Meliputi data mentah (catatan lapangan, kaset), data yang sudah diproses (trasnkripsi wawancara), dan bentuk-bentuk dari pengolahan dari data mentah dan semua berkas yang diperoleh dari proses penelitian (observasi)

Koding
 Proses membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh dengan maksud untuk dapat mengorganisasi dan mensistematisasi data secara lengkap dan detail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari.
 Langkah koding :
 peneliti menyusun catatan lapangan dengan ada kolom kosong yang cukup besar di sebelah kiri dan kanan catatan (untuk kode dan catatan tertentu)
 Peneliti secara urut dan kontinyu melakukan penomoran pada catatan lapangan tersebut (penomoran baru perbaris atau per paragraf)
 Peneliti memberi nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu
 Contoh. OS.L2Jun03 : Hasil observasi siswa laki-laki pada 2 Juni 2003
Integrasi dan Analisis data
 Pengintegrasian data dari berbagai sumber, komunikasi antar data, distrukturisasikan sesuai kebutuhan, untuk kemudian di analisis
 Analisis data membutuhkan kepekaan teoritis, karena observer/peneliti melakukan upaya mengembangkan teori atau berteori.
 Kepekaan teoritis mengacu pada kemampuan untuk memperoleh insight, memberi makna pada data, memahami dan memilah mana yang esensial dan yang tidak.
 Teknik-teknik untuk meningkatkan kepekaan teoritis adalah sebagai berikut :
 mengembangkan pertanyaan-pertanyaa “what? Who? When? Where? How? How Much? Dan Why?”
 Analisis kata, frase, kalimat (pada observasi apa ya?)
 Analisis tahap lanjut melalui perbandingan. Melakukan perbandingan sistematis terhadap dua atau lebih fenomena yang ditampilkan dalam data, baik terhadap gejala-gejala yang dekat atau memiliki kesamaan karakteristik tertentu, ataupun terhadap gejala-gejala yang dianggap berjauhan atau tidak memiliki kesamaan karakteristik apapun.

Interpretasi
 Upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam berdasarkan perspektif peneliti/obsever terhadap apa yang diobservasi dan menginterpretasi data melalui persepektif tersebut, melampaui apa yang secara langsung dikatakan atau dilihat pada responden, untuk mengembangkan struktur-struktur dan hubungan-hubungan bermakna yang tidak tertampilkan dalam data mentah.
 Tiga konteks interpretasi :
 Interpretasi pemahaman diri : peneliti/obsever berusaha memformulasikan dalam bentuk padat apa yang oleh subjek penelitian sendiri dipahami sebagai makna dari pernyataan-pernyataannya atau perilakunya.
 Interpretasi pemahaman biasa yang kritis : peneliti beranjak lebih jauh dengan menggunakan kerangka pemahaman yang lebih luas dari pemahaman subjek penelitian dengan bersikap kritis terhadap apa yang ditunjukkan subjek baik dengan memfokuskan diri pada pada isi maupun subjek yang diamati (pembuat pernyataan). Peneliti mengambil posisi sebagai masyarakat umum di mana subjek penelitian berada.
 Interpretasi pemahaman teoritis : peneliti menggunakan kerangka teoritis tertentu untuk memahami pernyataan-pernyataan yang ada sehingga dapat mengatasi konteks pemahaman diri subjek dan penalaran umum
 Penelitian yang baik akan mencakup semua tahapan interpretasi tetapi berakhir pada kesimpulan pemahaman teoritis.
Kesimpulan
Peneliti/observer menyimpulkan tentang gejala yang diamati berdasarkan analis dan interpretasi yang dilakukan untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan dan tujuan observasi.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
 Pengetahuan, values, attitudes, dan pengalaman berfungsi sebagai filters
 Tidak semua data yang kita butuhkan “tersedia“ :
 Luput dari perhatian
 Gagal mendapatkan sense impressions of an object or event
 Penyebab hasil observasi tidak lengkap :
 Level of concentration
 Fatigue/illness
 Situation
 The annount of time
 Two biases :
 Personal
 Theory
IMPLEMENTATION OF FINDINGS
 Implementasi pertanyaan penelitian
 Conditions . The physical & psychological characteristics
 On going evaluation :
 Jeda pengumpulan data dengan ? Data yang kurang
 Comparison between some event, object, behavior
KASUS 1
 Klien : perempuan
 Kasus bakat ; ingin mengulang tes, sekarang di Tek. SIpil di PTS ingin ke UGM
 Observ. Tes WAIS
 Respon lambat dalam menjawab pertanyaan
 Kurang konsentrasi terhadap pertanyaan sehingga harus diulang
 Mudah menyerah

KASUS 2
 Klien : laki-laki
 Kasus bakat (pribadi?)
 Ikut keluarga, tidak mau diajak ORTU ke Perancis
 Minder, salah satu tangan berjari 6
 Hasil observasi :
 Ragu-ragu, takut, kurang percaya diri, malas mencoba
 Selama tes menutupi mulut dengan tangan

psikomitri

PENGERTIAN PSIKOMETRI
Psikometri adalah cabang ilmu psikologi yang berkaitan dengan pengukuran atribut-atribut psikologis, Ex. IQ, EQ, SQ prilaku dilenkuen, keperibadian ekstovet-intervrt, mutifasi, prestasi belajar, kepercayan diri, dll.
1. PENGUKURAN
Pengukuran adalah prosedur kuantifikasi terhadap atribut atau variabel dengan aturaaturan tertentu sepanjang suatu kontinum
Cara pengadministrasian alat ukur, siksp tester terhadap subjek (teste) yang dikenai pengukuran, mudel skala yang digunakan dalam pensekoran (apakah model lekert: sangat setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju, atau menggunakan model thurstone)
2. KARAKTERISTIK PENGUKURAN
a) Pembanding antara antara atribut yang di ukur dengan alat ukurnya. Ketika pak anto’ mengenakan tes WAIS kepada asrul pada dasarnya pak anto’ hendak membandingkan skor yang di peroleh asrul pada tes WAIS dengan suatu kontinum skor yang ada pada tes WAI.
b) Hasilnya dinyatakan secara kuantitatif.
c) Hasilnya bersifat deskriptif.

3. KEGUNAAN PENGUKURAN
a) Objektifitas
b) Penyajian data secara rinci, bisa dilakukan analisis matematis, komunikasibilitas hasil yang tinggi
c) Ekonomi.
d) Generaliasi.

4. EVALUASI
a) Evaluasi adalah kegiatan membandingkan antara hasil ukur dengan satu norma atau suatu kreteria. Ssebagai contoh, seorang psikologi tidak bisa mengatakan bahwa skor 70 yang diperoleh leely (6 taun) pada tes BINET adalah tergolong baik atau buruk, sebelum psikolog tersebut membandingkan dengan norma yang ada. Seorang psikolog juga tidak bisa mengatakan skor 90 yang diperoleh asrul (25 tahun) pada tes WAIS tergolong sebagai IQ yang Average, Brigh Everage atau superior sebelum psikolong tersebut membandingkan dengan norma tes yang ada.
b) Hasilnya bersifat kualitatif.
c) Hasilnya dinyatakan secara evaluatif.

5. JENIS DATA
a) Skala nominal: adalah skala yang bersifat sebagai pembeda atau menunjukkan suatu karakteristik.
b) Skala ordinal: adalah adanya perbedaan jenjang. Contoh: rangking kelas, dll.
c) Skala interval:
a. Adanya perjenjangan dan jakarta antara jenjang diasumsikan sama.
b. Nol tidak mutlak.
c. Tidak dimungkinkan adanya perkalian atau pembagian.
d) skala rasio:
a. Interval yang memiliki nol mutlak.
b. Dapat dikenai operasi hitung.

6. BEBERAPA ISTILAH DALAM PSIKOMETRI
a) Konstanta : Memiliki Mean sebesar U (Mu) & memiliki varians = 0. Ex. π = 3, 141.
b) Variabel : Memiliki Mean sebesar U (Mu) & memiliki varians sebesar S2.
Variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai (Singarimbun, 1989). Konsep-konsep yang sudah diterjemahkan menjadi satuan yang lebih operasional, yakni variabel dan konstruk (construct) belum sepenuhnya siap untuk diukur, kecuali bila telah didefinisikan secara operasional. Karena variabel dan konstruk mempunyai beberapa dimensi yang dapat diukur secara berbeda (Singarimbun, 1989).
c) Statistik : Besaran kuantitatif untuk suatu sampel.
d) Parameter : Besaran kuantitatif untuk suatu sampel.

1. TUJUAN TES PSIKOLOGI
a. Membandingkan dua atau lebih aspek atribut psikologis pada indiviidu yang sama
b. Membandingkan individu yang berbeda pada aspek atribut psikologis yang sama.

2. KARAKTERISTIK TES PSIKOLOGI
a. Tes adalah suatu prosedur yang sistematis yang terdiri dari stimulus yang didesain dengan baik dalam rangkaian tertentu berdasar kepada prinsip-prinsip konstruksi tes.
b. Tes psikologis melakukan baik pengukuran kuantitatif dengan menggunakan skala numerik maupun proses evaluasi yang bersifat kualitatif dengan menggunakan sistem kategori. Contoh kategorisasi dalam tes WAIS:
19 kebawah : profound retardation.
20 – 34 : severe tetardation.
35 – 49 : moderat retardation.
50 – 70 : mild retardation.
71 – 79 : borderline.
80 – 89 : dull average.
90 – 109 : average.
110 – 119 : bright average.
120 – 129 : superior.
130 ke atas : very sop.

3. KLASIFIKASI TES PSIKOLOGI
1. Dimensi atribut psikologis
a. Atribut kongnitif
b. Atribut non kognitif

2. Dimensi materi yang digunakan dalam mmenyusun tes
a. Tes proyektif, contoh: tes TAT, CAT, Rho
b. Tes non proyektif contoh: tes WAIS tes BINIT, tes WISC,tes RMIB,, tes 16 PF, tes IST.

3. Diminsi administrasi
a. Tes kelompok , seperti tes IST untuk tes IQ
b. Tes individual, seperti tes WAIS, WISC, BINIT untuk tes IQ


TEORI TES KLASIK DAN ASUMSI-ASUMSINYA

1. Unsur-unsur dalam teori sudah dikembangkan & diaplikasikan sejak lama tetapi masih banyak digunakan hingga sekarang.
2. Teori berupa asumsi-asumsi yg dirumuskan secara matematis.
3. Modelnya disebut true score model

ASUMSI-ASUMSI TEORI TES KLASIK
a. ASUMSI 1: X=T+E
Ket: X= Observed Scores/Skor Tampak/Skor Perolehan/Skor Kasar
T= True Scores/Skor Murni
E= Error.
Contoh: Jika skor murni si Abdul dalam tes IQ =110, dalam Tes 1 X= 112 (maka E=+2) & dalam Tes 2 X= 108 (maka E= -2)
b. ASUMSI 2: ε (X)=T
Skor murni adalah Mean dari hasil beberapa kali pengkuran (diasumsikan tdk terbatas jumlahnya) yang dilakukan pada orang yg sama dgn alat tes yang sama, dimana setiap pengulangan tes bersifat independen.
c. ASUMSI 3: ρet = 0
Ket: ρ = r = korelasi
Distribusi Eror pengukuran (E) tidak berkorelasi dg distribusi skor murni (T)
Contoh: Abdul, T= 120
Tes 1, X = 122 (E = +2)
Tes 2, X = 118 (E= - 2)
d. ASUMSI 4: ρ E1 E2 = 0
Tidak terdapat korelasi antara kesalahan pada Tes 1 dengan Tes 2. Kecuali bila kesalahan dalam tes disebabkan oleh practice effect, Facking Bad, Faktor lingkungan, dll.
Contoh: Jika pada tes 1 Abdul mendapat (E = + 6), tidak berarti pada tes 2 Abdul akan mendapat skor (E) yg lebih besar dari tes 1.
e. ASUMSI 5: ρ E1 T2 = 0
Jika ada dua tes yang mengukur atribut yg sama, maka skor E pada tes 1 tidak berkorelasi dengan skor T pada tes 2, kecuali bila salah satu tes mengukur aspek yg berpengruh thdp terjadinya eror.

ASUMSI 5 INI MEMUNCULKAN KONSEP TES PARAREL DAN EKUIVALEN
f. ASUMSI 6 TES PARALEL
Dua tes disebut sebagai tes paralel (sama & bisa jadi badal), jika:
1. Skor T dari setiap subjek adalah sama pad kedua tes tersebut (T = T’).
2. Varians eror pada populasi yg dikenai tes adalah sama besar σe 2 = σe’ 2.
3. Memiliki Mean dan Varians skor X yang setara.
4. Dua tes disebut Equivalen jika besarnya perbedaan skor murni setiap individu pada kedua tes tersebut selalu tetap.
Contoh: Jika setiap orang yg dites di Impresi IAIN memperoleh skor 80, kemudian di tes di UNAIR pasti memperoleh skor 100, maka kedua tes disebut Ekuivalen.
g. ASUMSI 7 TES EQUIVALEN
Dua tes disebut Equivalen jika besarnya perbedaan skor murni setiap individu pada kedua tes tersebut selalu tetap.
Contoh: Jika setiap orang yg dites di Impresi IAIN memperoleh skor 80, kemudian di tes di UNAIR pasti memperoleh skor 100, maka kedua tes disebut Ekuivalen.
1. KELEMAHAN UTAMA TEORI TES KLASIK
• Alat ukur bersifat sample bound.
• Butir-butir soal hanya merupakan sampel dari populasi butir soal.
• Populasi yang digunakan dalam penyusunan alat tes hanya merupakan sampel dari populasi subjek
2. TEORI TES MODERN
Teori tes moderen mendasarkan diri pada pasa sifat-sifat atau kemampuan yang laten mendasari kinerja (performance)atau repon subjek terhadap butiran soal tertentu, item reponsse theory (IRT) berlandasan pada dua postulat yaitu:
• Kinerja seorang subjek pada suatu butiran soal dapat di peridiksikan (atau dijelaskan)dari suatu perangkat factor-faktor yang disebut sifar-sifat laten,atau kemampuan.
• Hubungan antara kinerja pada suatu soal dan perangkat sifat-sifat yang mendasari kinerja itu dapat dapat di dideskripdikan denan fungsi meningkat secara monotik yang disebut fungsi karesteristik butiran soala, fungsi ini mengatakan bahwa apabila taaraf sifat (kemampuan) meningkat, maka probabilitas suatu respon yang bennar terhadap suatu butiran soal juga naik.
3. ASUMSI- ASUMSI TES MODEREN (IRT)
1. Parameter butiran soal adalah (invariant).
2. Unidimensionslity : satu aitem mengukur satu kemampuan. Asumsi ini kurang terbuukti karna pada dasarnya antaraitem satu dengan lainya saling melengkapi.
3. Local independence repon terhadap suatua aitem tidak akan berpengaruh pada lainya.

4. PARAMETER BUTIRAN SOAL
• Daya beda soal sejauh mana aitem yang ada mampu membedakan antara subjek yang berkemampuan rendah dan berkemampuan tinggi.
• Tingkat kesukaran soal setiaap yang dibuat akan dilakukan uji psikomitri apakah soal yang dibuat terlalu sulit atau terlalu mudah,(yang dipakek adalah soal yang tidak relalu sulit tidak telau mudah).
• Tingkat kebetulan menjawab soal.

5. MODEL-MODEL YANG POPULER DALAM TEORI REPON BUTIRAN SOAL
• Model logistic satu parameter
• Model logistic dua parameter
• Model logistic tiga parameter
6. TEORI TES KLASIK VS IRT
• Banyak item u/ ungkap 1 kemampuan.
• E diukur dari banyaknya skor
• Semakin banyak soal & semakin lama tes semakin baik.
• Bias tidaknya item tergantung pada sampel representatif.
• Skor tes akan berguna jika dibandingkan dengan 1 kelompok representatif (norma ditentukan oleh 1 kelmpok representatif).
• Sifat skala interval bisa diperoleh dg adanya distribusi normal (Data harus terdistribusi secara normal).
• Item campuran bisa menyebabkan ketidak seimbangan dlam skor tes.
• Perubahan skor tidak bisa dibandingkan jika skor awalnya tidak sama.
• Fitur-fitur stimulus tidak perlu dibandingkan secara langsung dengan psikometri
7. TEORI TES MODEREN (IRT)
1 item mengukur 1 kemampuan.
2 E berlaku hanya u/ 1 skor.
3 Semakin cepat tes semakin baik.
4 U/ mengetahui bias tidaknya item tidak harus dengan sample representatif.
5 Skor tes akan berguna jika dibandingkan dengan itemnya.
6 Sifat skala interval bisa disesuaikan. Ex. SS--------STS
7 Format item campuran dapat menghasilkan skor optimal.
8 Bisa
9 Fitur-fitur stimulus dapat dibandingkan secara langsung dengan psikometri. Ex. Pada teori IRT kita dapat mengetahui mana alternatif jawaban yg efektif dan mana yg tidak.
 FUNGSI RELIABILITAS
• Sejauh mana hasil pengukuran dengan instrument tersebut dapat di percaya.
• Proporsi variabilitas skor tes yg disebabkan oleh perbedaan yg sebenarnya diantara individu.
1. INTERPRETASI KOEFISIEN RELIABILITAS
• rxx’ = Korelasi skor X antara dua tes yg paralel.
• rxx’2= Sumbangan efektif penelitian (E)
• rxx’= St2 / SX2. Ex. Jika suatu pengukuran diperoleh rxx’ = 0.80, maka 80% dari SX adalah St. Jika St2 = Sx2 maka reliabilitas tes sempurna rxx’= 1.00.
2. INTERPRETASI KOEFISIEN RELIABILITAS
• rxx’ = rxt2
Reliabilitas = Kuadrat koefisien korelasi antara X & T
• rxx’= 1-rxe2
Reliabilitas = 1 – koefisien korelasi antara X dan E
• rxx’= 1- se2 /sx2.
Tinggi rendahnya reliabilitas ditentukan oleh sx2. Semakin heterogen suatu kelompok semakin baik reliabilitasnya.
 MODEL PENDEKATAN LAMA
A. TES ULANG (TEST – RETEST)
Administrasi : Alat ukur disajikan sebanyak dua kali pada satu kelompok subjek dg memberi tenggang waktu tertentu.
KELEMAHAM
a. Terjadi perubahan skor yang tidak se-arah (Eror random)
b. Subjek kenaikan sama besar pada tes kedua
c.
B. SKOR TES ULANG RANDOM


Subjek Skor pertama
(x1) Skor kedua
(x2)
A 20 22
B 19 20
C 22 22
D 17 18
E 24 24
F 17 16
G 20 21
H 15 17
I 24 23
J 19 19

C. SKOR TES ULANG EROR SISTEMATIK

SKOR PERTAMA
(X1) SKOR KEDUA
(X2) EROR
(X1-X2)
20 22 +2
19 21 +2
22 24 +2
17 19 +2
24 26 +2
17 19 +2
20 22 +2
15 17 +2
24 26 +2
19 21 +2

rx1x2 = 1.00 Se2=0
D. BENTUK PARALEL
Administrasi : Memberikan sekaligus dua tes yang paralel satu sama lain pada sekelompok subjek.
Kelemahan : Sangat sulit menemukan tes yang paralel, sehinggan memungkinkan terdapat varians eror.
E. MODEL KONSISTENSI INTERNAL
PROSEDUR :
• Tes hanya diberikan satu kali pada sekelompok subjek (single trial administration).
• Pembelahan tes baru dilakukan setelah pengenaan tes.
• Dalam pendekatan model paralel & tes ulang, pembelahan hanya bisa dilakukan dalam jumlah yang sama pada masing2 belahan. Sementara pendekatan konsistensi memungkinkan pembelahan dengan jumlah yang tidak seimbang (FORMULA FELD).
F. CARA PEMBELAHAN TES
• PEMBELAHAN CARA RANDOM
Membela tes menjadi dua bagian dengan cara random (simple random, computer selection).
Syarat:
1. Item harus homogen (content homogeneous).
2. Taraf kesukaran soal harus diperhatikan
• PEMBELAHAN GASAL GENAP
Pembelahan dg mengumpulkan item2 dg nomor gasal dan genap (odd-even splits).
Belah dua: Formula spearman brown
Kegunaan:
• Estimasi Reliabilitas tes yang bisa dibelah menjadi dua bagian
• Umumnya memperoleh dua belahan tes yg relatif paralel.
• Pembelahan yang sering digunakan adalah cara pembelahan gasal genap atau matched-random subsets.