Sabtu, 21 Mei 2011

GANGGUAN ANOREKSIA NERVOSA DAN BULIMIA

A. Definisi Anoreksia (anorexia
Anoreksia (anorexia) berasal dari bahasa Yunani an-, yang artinya “tanpa” dan orexis artinya “hasrat untuk”. Anoreksia memiliki arti “tidak memiliki hasrat untuk (makan)”, yang sesungguhnya keliru, karena kehilangan nafsu makan diatara penderita anoreksia nervosa jarang terjadi.
Menurut Bruch (1973) “pengejaran tanpa lelah kekurusan tubuh dengan menciptakan kelaparan diri sendiri bahkan sampai pada kematian”
Anoreksia nervosa dapat diartikan sebagai gangguan makan karena adanya keinginan yang keras untuk mendapatkan tubuh yang kurus dan ditandai oleh penurunan berat badan yang yang ekstrim dengan cara sengaja melaparkan diri.
B. Sebab – Sebab
Seperti gangguan psikologis lainnya, anorexia melibatkan interaksi yang kompleks dari berbagai faktor. Namun demikian, faktor yang paling signifikan adalah tekanan sosial yang dirasakan oleh wanita muda yang menyebabkan mereka mendasarkan self – worth pada penampilan fisik, terutama berat badan.
1. Faktor Biologis
Kelaparan menyebabkan banyak perubahan biokimia, beberapa diantaranya juga ditemukan pada depresi. Para ilmuwan menduga bahwa terdapat ketidaknormalan dalam mekanisme otak yang mengatur rasa lapar dan kenyang pada penderita anoreksia nervosa kemungkinan terbesar berkaitan dengan serotonin kimiawi otak (Goode,2000).
Opiat endogen mungkin memberikan konstribusi pada penyangkaan dan keadaan lapar pasien anoreksia nervosa. Penelitian sebelumnya menunjukkan peningkatan berat badan yang berarti pada beberapa pasien yang diberi opiat antagonis.
Kelaparan menghasilkan beberapa perubahan biokimia, yang sebagian juga ada pada pasien depresi, seperti hiperkortikolemia dan non supresi dari dexamethason. Fungsi tiroid juga tertekan, kelainan ini hanya bisa dikoreksi dengan kaliminasi. Kelaparan juga menyebabkan amenorrhea yang menunjukkan kadar hormon (luitenizing hormon, FSH, gonadotropin, realising hormon). Meskipun begitu, beberapa pasien anoreksia nervosa menderita amenorrhea sebelum kehilangan berat badan yang signifikan.
Pembatasan makan terlalu banyak mengaktifkan saraf yang berhubungan dengan reward (contoh dopamine dan sistem opioid endogen) khususnya saat syaraf tersebut berasosiasi dengan latihan fisik yang meningkat. (Heubner, 1993 ; Bergh & Sodersten, 1996; Sodersen et al. 2006) dapat menyebabkan simptom – simptom yang berhubungan dengan Anoreksia nervosa (contoh, depresi, obsesi (keys et al. 1950; zandian et al, 2007) dan menghasilkan efek fisiologis yang merugikan serta rasa permusuhan terhadap asupan makanan (Capaldi & Myers, 1982; Pinel et al. 2000).
Farmakologi dan bukti genetik memperlihatkan bahwa dopamin dan sistem opioid berkontribusi terhadap pengurangan keinginan makan pada Anoreksia Nervosa (Yeomans & Gray, 2002; Frank et al. 2005; Brown et al.2007).
Sedikit priming efek untuk ekspersi wajah bawah sadar terhadap rasa jijik. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa efek rasa takut itu lebih kuat dibandingkan dengan rasa jijik terhadap penolakan makanan.
Hal tersebut dapat dihipotesiskan bahwa efek takut mungkin merefleksikan keterlibatan struktur otak, seperti amygdala yang berperan penting dalam mediasi otonom dan respon perilaku terhadap ancaman stimulus (Ledoux, 1996; Ohman et al.2007).
Interpretasi tentatif yang berhubungan dengan simptom Anoreksia nervosa terhadap ketakutan irasional pada asupan makanan atau pertambahan berat badan, berasal dari hyperaktifasi amigdala yang dapat mempengaruhi penilaian negatif terhadap makanan. Dapat dicatat bahwa minuman berkalori telah menunjukkan penderita anoreksia nervosa untuk memunculkan emosi takut terhadap kalori atau caloric fear dengan mengaktifnya limbik dan para limbik. (Contoh : amygdala, insula, anterior cinglate gyrus) (Ellison et al, 1998).
Secara perilaku, wanita dengan anoreksia nervosa menunjukkan rating positif yang lebih tinggi terhadap respon stimulus underweight atau kurus. Sementara pada wanita sehat lebih memilih terhadap stimulus dengan berat badan normal. Pada penderita anoreksia nervosa mempunyai aktifasi yang lebih tinggi terhadap ventral stiratal activity saat memproses stimulus undreweight dibandingkan dengan stimulus berat badan normal atau normal weight stimuly. Pada wanita dengan anoreksia nervosa, aktifasi tersebut lebih tinggi selama memproses stimulus underweight dibandingkan dengan stimulus normal weight (Anna Katharina Fladung et al, 2010).
2. Faktor Sosial.
Penderita menemukan dukungan untuk tindakan mereka dalam masyarakat yang menekankan kekurusan dan latihan.. Tidak ada gambaran keluarga yang spesifik untuk anoreksia nervosa. Walaupun begitu, ditemukan bukti yang menunjukkan pasien-pasien anoreksia nervosa mempunyai masalah yang berhubungan dengan keluarga dan penyakit mereka. Pasien anoreksia nervosa mempunyai sejarah keluarga yang depresi, ketergantungan alkohol, atau gangguan makan. Tetapi, faktor sosial memegang peran penting dimana penderita ingin menjadi kurus karena kegemukan, dianggap tidak menarik, tidak sehat, dan tidak diinginkan.
3. Faktor Psikologis dan Psikodinamis.
Anoreksia nervosa merupakan suatu reaksi terhadap kebutuhan pada remaja untuk menjadi lebih mandiri dan meningkatkan fungsi sosial dan seksual. Biasanya mereka tidak mempunyai rasa otonomi dan kemandirian, biasanya tumbuh di bawah kendali orang tua. Kelaparan yang diciptakan sendiri (self starvation) mungkin merupakan usaha untuk meraih pengakuan sebagai orang yang unik dan khusus. Hanya memalui tindakan disiplin diri yang tidak lazim pasien anoreksia dapat mengembangkan rasa otonomi dan kemandirian.
4. Faktor Sosiokultural
Teoritikus sosiokultural menitik beratkan pada tekanan sosial dan harapan dari masyarakat pada wanita muda sebagai kontributor terhadap perkembangan gangguan makan (Bempoard, 1996; Stice, 1994). Tekanan untuk mencapai stabdar kurus yang tidak realisitis, dikombinasikan dengan pentingnya faktor penampilan sehubungan dengan peran wanita dalam masyarakat, dapat menyebabkan wanita muda menjadi tidak puas dengan tubuh mereka sendiri (Stice, 2001). Model sosiokultural didukung pula dengan bukti – bukti yang menunjukkan bahwa gangguan makan lebih tidak umum, bahkan jarang terjadi di negara – negara nonBarat (Stice, 1994; Wakeling, 1996). Bahkan pada budaya barat, gangguan makan yang terkait dengan obsesi terhadap berat badan lebih umum terjadi di Amerika daripada negara – negara barat lainnya, seperti Yunani dan Spanyol atau pada negara Timur jauh yang teknologinya telah berkembang seperti Jepang (Stice, 1994).

5. Faktor Psikososial
Ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri adalah faktor penting dalam anorexia nervosa.(Heatherton dkk, 1997). Ketidakpuasan terhadap tubuh dapat menghasilkan usaha – usaha yang maladaptif dengan melaparkan diri dan memuntahkan untuk mencapai berat badan atau bentuk tubuh yang diinginkan. Wanita pengidap anorexia cenderung menjadi sangat peduli pada berat dan bentuk tubuh mereka (Fairbun dkk, 1997). Wanita muda dengan anorexia sering kali memiliki sikap perfeksionis dan berjuang mencapai prestasi yang tinggi (Halmi dkk, 2000). Mereka sering kali kecewa pada diri mereka ketika gagal mencapai standar tinggi mereka yang tidak mungkin dicapai. Diet yang ekstrem dapat memberikan perasaan bisa mengontrol dan kebebasan yang lebih besar daripada yang didapat dari aspek kehidupan lainnya (Shafran & Mansell, 2001).
6. Faktor Keluarga
Gangguan makan, anoreksia nervosa sering jali berkembang dari adanya konflik dalam keluarga (Fairbun dkk, 1997; Wonderlich dkk, 1997). Beberapa remaja menggunakan penolakan untuk makan sebagai cara menghukum orang tua mereka karena perasaan kesepian dan keterasingan yang mereka rasakan di rumah. Ibu dari remaja yang memiliki gangguan makan lebih tidak bahagia terhadap fungsi keluarganya, juga memiliki masalah makan dan diet dan percaya bahwa putrinya harus menurunkan berat badan serta memandang putrinya sebagai orang yang tidak menarik.(Pike & Rodin, 1991). Keluarga dari wanita dengan anoreksia cenderung lebih sering mengalami konflik, kurang memiliki kedekatan dan kurang saling memberi dukungan namun lebih bersikap overprotective dan kritis daripada kelompok pembanding.(Fairbun dkk, 1997). Orang tua terlihat kurang mampu untuk membangkitkan kemandirian dalam diri anak perempuan mereka. konflik dengan orang tua mengenai isu otonomi sering kali mengakibatkan munculnya anoreksia nervosa (Ratti, Humphrey & Lyons, 1996).
7. Spiritual
Disebabkan karena individu tersebut mengingkari nikmat yang telah diberikan padanya seperti tercantum dalam surat Ibrahim ayat 7 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azabku sangat pedih”. Serta mereka ragu terhadap dirinya sendiri seperti dijelaskan dalam surat Al Mu’minuun ayat 47 “Dan mereka berkata “apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang – orang yang menghambakan diri kepada kita?”
C. Pendekatan Menurut Aliran – Aliran
1. Prespektif Psikoanalisis
Teori psikoanalisis menerangkan bahwa anorexia nervosa adalah pernyataan terhenti atau mundurnya perkembangan kepribadian seseorang pada fase oral. Keadaan ini dapat disertai oleh gejala – gejala lain, hal ini ada sangkut pautnya dengan kegagalan integrasi sensasi tubuh yang normal sebagai akibat trauma psikik pada masa anak.
Penderita anorexia tampaknya memiliki kesulitan untuk berpisah dari keluarga mereka dan menyatukan identitas terpisah dan terindividuasi (Bruch, 1973; Minuchin, Rosman & Baker, 1978). Anoreksia mungkin mencerminkan usaha alam bawah sadar dari remaja putri untuk mempertahankan masa prapubertasnya. Hal ini dilakukan dengan isu – isu orang dewasa seperti peningkatan kemandirian dan perpisahan dengan keluarga, kematangan sexual dan asumsi adanya tanggung jawab pribadi.
Psikoanalisis juga memandang bahwa gangguan tersebut dikarenakan oleh id yang tumpul dengan padukan oleh superego yang tinggi. Id yang tumpul ditandai dengan kurangnya rasa ingin memakan sesuatu meskipun individu tersebut sudah merasa lapar (penolakan / denial terhadap fungsi id). Superego beranggapan bahwa ia harus mempunyai berat badan yang ideal, sehingga untuk mengkompensasi superego maka ego akan bertindak untuk tidak makan atau sangat memperihatinkan kandungan gizi dalam makanan. Yang terpenting baginya adalah dia akan mempunyai berat badan yang ideal menurut dia.
2. Perspektif Humanistik
Memandang anoreksia sebagai suatu fobia berat badan. Ketakutan berlebihan dan tidak rasional terhadap pertambahan berat badan dapat merefleksikan kecenderungan dalam budaya untuk mengidealkan untuk bentuk badan wanita yang ramping. Mengeluarkan makanan merupakan sebuah tipe ritual kompulsif yang diperkuat dengan berkurangnya ketakutan akan pertambahan berat badan yang mengikuti episode makan berlebihan seperti mencuci tangan yang kompulsif pada individu obsesif kompulsif yang diperkuat dengan munculnya perasaan lega karena terlepas dari gangguan kecemasan yang ditimbulkan oleh pikiran obsesif.
3. Perpektif Behavioristik
Teori behavioristik memandang bahwa gangguan anoreksia nervosa disebabkan oleh proses belajar yang salah. Individu tersebut beranggapan bahwa dengan memiliki tubuh yang ideal tersebut dengan berpenampilan tidak gemuk. Selain itu, anorexia nervosa berkembang dikarenakan oleh persepsi reward jika makan sedikit dan tindakan melaparkan diri diperkuat oleh rendahnya reinforcement atau nilai hedonic pada makanan.
4. Psikologi Islami
Pendekatan islami memandang individu yang terkena gangguan anorexia nervosa karena individu tersebut tidak mensyukuri keadaannya sekarang atau bisa karena individu tersebut mendholimi dirinya sendiri.
5. Kognitif
Teori kognitif memandang gangguan anorexia nervosa bahwa individu yang terkena gangguan anorexia nervosa disebabkan oleh pola pikir yang salah bahwa dengan cara diet secara berlebihan maka akan mendapatkan hasil tubuh yang ideal. Dan mereka pun mengalami distorsi kognitif mengenai body image mereka. Sehingga mereka berpikir bahwa mereka masih overweight meskipun badannya sudah sangat kurus.
D. Gejala
1. Indikasi awal dari kecenderungan terjadinya kelainan ini adalah meningkatnya perhatian terhadap makanan dan berat badan bahkan pada penderita yang sebelumnya sudah kurus.
2. Perubahan gambaran tubuh.
3. Ketakutan yang luar biasa akan kegemukan.
4. Penolakan untuk mempertahankan berat badan yang normal.
5. Hilangnya siklus menstruasi ( pada wanita ).
6. Denyut jantung lambat.
7. Tekanan darah lambat.
8. Suhu tubuh rendah.
9. Pembengkakan jaringan karena penimbunan cairan (ederma)
10. Rambut yang tipis dan lembut atau rambut tubuh dan wajah yang berlebihan.
11. Mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu dan atau dipertahankan oleh penderita.
12. Gejala kekurangan gizi
13. Konstipasi
14. Gangguan pencernaan dan perut kembung
15. Dehidrasi
16. Kram otot
17. Gemetaran
18. Tumbuh rambut halus di wajah, punggung atau lengan
19. Payudara semakin datar
20. Rambut kusam, menipis dan mudah patah
21. Kulit kering dan pecah-pecah
22. Tangan dan kaki dingin
23. Detak jantung tidak beraturan
24. Depresi dan kecemasan
Dalam pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa edisi ke III (PPDGJ– III). Pedoman diagnostik anoreksia nervosa.
Ciri khas gangguan adalah mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu dan atau dipertahankan oleh penderita.Untuk suatu diagnosis yang pasti, dibutuhkan hal-hal seperti dibawah ini :
a. Berat badan tetap dipertahankan 15 % dibawah yang seharusnya (baik yang berkurang maupun yang tidak pernah dicapai) atau Quatelet’s body – mass index : adalah 17,5 atau kurang [Quatelet’s body – mass index = berat (Kg) / tinggi (M2)].Pada penderita pria pubertas bisa saja gagal mencapai berat badan yang diharapkan selama periode pertumbuhan.
b. Berkurangnya berat badan dilakukan sendiri dengan menghindarkan makanan yang mengandung lemak dan salah satu atau lebih dari hal-hal yang berikut ini :
1. Merangsang muntah oleh diri sendiri.
2. Menggunakan pencahar.
3. Olah raga berlebihan.
4. Memakai obat penekan nafsu makan dan atau diuretika.
c. Terdapat distorsi “ body image” dalam bentuk psikopatologi yang spesifik dimana ketakutan gemuk terus menerus menyerang penderita, penilaian yang berlebihan terhadap berat badan yang rendah.
d. Adanya gangguan endokrin yang meluas, melibatkan hypothalmic-pituitary ayis, dengan manifestasi pada wanita sebagai amenorrhea dan pada pria sebagai kehilangan minat dan potensi seksual. (Suatu perkecualian adalah perdarahan vagina yang menetap pada wanita yang anoreksia yang menerima terapi hormon, umumnya dalam bentuk pil, kontrasepsi), juga dapat terjadi kenaikan hormon pertumbuhan, naiknya kadar kortisol, perubahan metabolisme periperal dan hormon tiroid dan sekresi insulin abnormal.
e. Jika onsetnya terjadi pada masa prepubertas, perkembangan puber tertunda atau dapat juga tertahan (pertumbuhan berhenti, pada anak perempuan buah dadanya tidak berkembang dan terdapat amenorrhea primer, pada anak laki-laki genitalianya tetap kecil). Pada penyembuhan, pubertas kembali normal, tetapi menarche terlambat.
E. Onset
Onset anoreksia nervosa biasanya umur 10 tahun hingga 40 tahun. Pasien diluar range ini tidak tipikal, jadi diagnosa untuk pasien ini masih dipertanyakan. Setelah umur 13 tahun, onsetnya meningkat sangat cepat. Maksimum pada usia 17 tahun sampai 18 tahun sekitar 85 % dari pasien anoreksia nervosa, onsetnya antara umur 13 tahun dan 20 tahun.
Gangguan anorexia nervosa biasanya berkembang di masa dewasa ataupun dewasa akhir, gangguan ini umumnya mulai muncul pada masa remaja dan dewasa awal ketika tuntutan untuk menjadi kurus sangat kuat (Beck, Casper & Andersen, 1996).
Gangguan ini umumnya muncul di usia 17 dan sangat jarang dijumpai pada perempuan di atas 40.
F. Prevalensi
Perilaku makan yang terganggu dan gangguan makan juga bervariasi di antara kelompok etnik Amerika, dimana angka yang lebih tinggi terdapat pada remaja Eropa Amerika dibandingkan Afrika Amerika dan remaja dari etnik minoritas lainnya.
Anoreksia lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pada pria karena pada wanita cenderung lebih memperhatikan penampilan yang dikaitkan dengan isu kecantikan, para perempuan lebih gampang “diintimidasi” termasuk gambaran tentang tubuh ideal atau super kurus agar bisa disebut “cantik”.
G. Terapi
1. Psikoterapi
Mayoritas pasien anoreksia nervosa membutuhkan intervensi yang berlanjut setelah keluar dari rumah sakit. Bahkan dalam kasus yang kurang parah. Hospitalisasi bahkan tidak dibutuhkan karena kebanyakan pasien mengalami gangguan pada masa remaja tetapi keluarga adalah bagian dari rencana terapi. Meskipun psikodinamik terapi tidak dibutuhkan pada tingkatan awal terapi, terutama jika pasien anoreksia nervosa dalam kelaparan. Psikoterapi yang berorientasi pada insight hanya berguna pada pasien anoreksia nervosa yang telah stabil.
Psikoterapi adalah pendekatan yang terbaik untuk gangguan ini. Beberapa penelitian mendukung penggunaan dari family based interventions, adolesent focused indivudual therapy dan developmentally adaptedcognitive behavioral therapy (James lock et al, 2009).
Cakupan perawatan psikologis yang fokus terhadap individual [ada gangguan makan diantaranya adalah psikoterapi psikodinamika, psikoterapi interpersonal, developmentally oriented individual therapy, CBT, dialectical behavioral therapy, nutritional therapy dan psikoterapi baru yaitu cognitive remediation therapy (Crisp, 1980 : Lavenkron, 2001; mcintosh et al. 2005; Pike, Walsh, Vitousek, Wilson & Bauner, 2004 ; Robin et al. 1999; Tchanturia, Whitney & Treasure, 2006)
2. Terapi Kognitif Behavioral (CBT)
Diakui sebagai treatment yang efektif untuk gangguan makan. Dari beberapa study menunjukkan bahwa CBT paling baik digunkan sebagai single antidepresant drugs dan lebih efektif dari pada treatmen lainnya (Wilfew & Cohen, 1997; wilson & Fairbun, 1998).
CBT didasarkan pada suatu model kognitif tentang apa yang memelihara gangguan (Fairbun, 1997). Tekanan sosial atas wanita untuk lebih kurus yang berhubungan dengan shape dan weigh dan untuk melakukan pengekangan diet secara ketat (Polivy & Herman, 1993). Treatmen diarahkan pada pengurangan dengan dengan dietary restraint menuju pada pola makan yang kebih normal, pengembangan kognitif dan keterampilan untuk coping terhadap situasi – situasi yang beresiko tinggi mencetuskan binge eating dan purging dan memodifikasi pikiran yang disfungsional dan perasaan – perasaan personal yang berkaitan dengan berat dan bentuk tubuh.
3. Family – Based Treatment
Anoreksia diperlukan penanganan dini, karena penanganan yang terlambat mempersulit pengobatan. Pengobatan segera harus diberikan untuk memulihkan berat badannya dan jika kondisinya sangat lemah harus dirawat di rumas sakit. Perawatan penderita anoreksia nervosa harus disertai dengan bimbingan para spesialis (psikolog, ahli diet) karena dia perlu berdialog dengan pada ahli tersebut agar bisa mengubah pandangannya. Lama terapi bisa beberapa bulan bahkan sampai tahunan. Perawatannya pun sama yaitu dengn mengubah persepsi diri mengenai tubuhnya.
Biasanya, keluarga pasien akan diminta bantuan dalam perawatan seperti terapi psikologis, konseling gizi, modifikasi perilaku dan self-help group. Terapi dapat berlangsung setahun atau lebih. Dapat dilakukan sendiri di rumah bersama keluarga atau untuk kasus yang parah dengan rawat inap di rumah sakit. Tetapi meskipun perawatan di rumah sakit diperlukan akan lebih baik jika perawatan dilakukan di rumah yakni tanpa opname di rumah sakit. Menurut hasil penelitian dalam jurnal Family – Based Treatment of Adolesencet Anorexia Nervosa The Maudsley Approach. Menurut studi hasil penelitian di London menunjukkan 75 – 90% penderita anorexia nervosa dapat sembuh dengan melakukan perawatan Family based dengan perawatan kurang lebih selama 12 bulan.
Target kunci terapi keluarga (Christoper Dare, 1997) :
1. Mendorong orang tua untuk ambil bagian atau ikut serta pada pola makan anak dan olah raga untuk menaikkan berat badan anak mereka.
2. Mempromosikan kompetensi pengasuhan dengan menantang asumsi orang tuanya bahwa mereka menyebabkan anoreksia nervosa.
3. Menempatkan orang tua dalam pengambilan keputusan mengenai cara menyelamatkan dari tindakan melaparkan diri anak adan olah raga yang berlebihan.
4. Menyediakan pendidikan bagi orang tua mengenai dampak anorexia nervosa terhadap pola pikir, perilaku dan hubungan interpersonal.
5. Agar tidak menyalahkan dan mengeksternalisasi masalah agar dihadapi secara kekeluargaan dengan menjelaskan bahwa anorexia nervosa adalah penyakit jiwa.
Bentuk manual dari pendekatan terapi tersebut di Family – Based Treatment for Anorexia Nervosa (FBT – AN) (Lock, Le Grange, Agras & Dare, 2001). Pada banyak kasus, treatment tersebut berlangsung antara 6 sampai 12 bulan dan terdiri dari 10 dan 20 kali satu jam sesi keluarga (lock, Agras, Bryson & Kraemer, 2005)
H. Prevensi
1. Makan secara normal, diet yang seimbang sejak usia dini.
2. Adakan diskusi keluarga tentang anoreksia nervosa sebelum anak – anak menjadi remaja. Mereka yang tahu tentang kondisi ini dan konsekuensinya tentu tidak begitu suka menderita akibat kelainan tersebut.
3. Bila ingin mengurangi berat badan, mulailah program berat badan dengan bantuan seorang ahli gizi atau dilakukan sendiri setelah membaca tentang cara yang baik untuk melakukan hal tersebut.
4. Berkonsultasi kepada psikolog tentang perasaan yang dialami agar mengetahui bagaimana cara untuk mencari jalan keluarnya.
I. Kualitas Hidup
Penderita anoreksia beranggapan bahwa kulit dan daging tubuhnya sebagai lemak yang harus dilenyapkan. "Seseorang yang mengalami anoreksia akan menolak makanan, muntah, dan menggunakan obat diet berlebihan. Penderita anoreksia membutuhkan perawatan. Bukan hanya medis, juga psikologis," ungkap staff physician dari Albert Einstein College of Medicine Bradley J Kaufman MD.


A. Definisi Bulimia
Bulimia berasal dari bahasa Yunani bous yang artinya sapi atau kerbau, dan limos yang artinya rasa lapar. Gambaran dari istilah tersebut adalah makan yang terus menerus, seperti sapi yang memamah biak. Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang melibatkan episode berulang-ulang dari tindakan makan berlebihan (binge) tak terkontrol yang diikuti dengan tindakan kompensatoris untuk mengenyahkan makanan itu (Durand dan Balow, 2007). Menurut Siswono, bulimia nervosa dan anorexia nervosa merupakan penyakit atau gangguan pada kebiasaan atau pola makan. Dalam DSM-IV-TR disebutkan bahwa bulimia terbagi menjadi 2, yaitu purging type dan non-purging type. Purging type adalah penderita bulimia yang menggunakan cara langsung seperti memuntahkan atau dengan memakai obat pencahar, serta non-purging type adalah penderita bulimia yang menggunakan olahraga yang ketat atau puasa sebagai cara untuk mempertahankan berat badannya.
B. Sebab-Sebab
Beberapa penelitian tentang bulimia menyebutkan bahwa ada beberapa faktor penyebab terjadinya bulimia nervosa, antara lain:
1. Faktor Sosial
Di dalam kesehariannya para wanita menganggap bahwa berat tubuh yang ideal adalah semakin tubuh kurus maka semakin ideal bentuk tubuhnya. Di daerah masyarakat industri orang lebih memilih memiliki bentuk tubuh yang kurus, sedangkan di daerah non-industri masyarakat lebih memilih tubuh yang gemuk (Hsu,1990).
Paxton, Schutz, Wertheim dan Munir (1999) mengeksplorasi pengaruh persahabatan pada sikap tentang citra tubuh, diet, dan perilaku ekstrim dalam usaha mengurangi berat badan. Dalam sebuah eksperimen yang cerdas, para peneliti mengidentifikasi 79 macam klik pertemanan diantara 523 gadis remaja. Mereka menemukan bahwa klik-klik pertemanan ini cenderung mmemiliki sikap yang sama terhadap citra tubuh, diet, dan pentingnya usaha mengurangi berat badan. Juga jelas dari studi ini bahwa klik-klik pertemanan ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap terbentuknya keresahan mengenai citra tubuh dan perilaku makan. Dengan kata lain, bila teman-teman anda cenderung menggunakan diet ekstrem atau teknik menurunkan berat badan lainnya, anda memiliki peluang yang lebih besar untuk melakukannya juga (Field, dan kawan-kawan, 2001; Vanderwal dan Thalen, 2000).
Stice, Cameron, Killen, Hayward dan Taylor (1999) menunjukkan bahwa salah satu alasan mengapa usaha menurunkan berat badan dapat mengakibatkan gangguan makan adalah karena usaha menurunkan berat badan pada gadis remaja lebih cenderung menyebabkan berat badan justru bertambah daripada turun.
Faktor keluarga juga menjadi faktor sosial lain dalam penyebab gangguan ini. Penderita bulimia berasal dari keluarga yang tidak bahagia, umumnya mereka memiliki orang tua yang gemuk, atau mereka sendiri kegemukan pada masa kanak-kanak. Namun hingga kini masih belum jelas apakah gangguan emosional ini sebagai sebab atau akibat dari bulimia.
2. Faktor Psikologis
Seseorang yang memiliki gangguan bulimia kebanyakan adalah perempuan muda. Hasil observasi klinis menunjukkan bahwa banyak perempuan muda mengalami penurunan dalam hal control pribadi dan kemampuan dan talentanya sendiri (Bruch,1973). Hal ini juga dapat dimanifestasikan sebagai self-esteem yang rendah (Firburn,et.al,2003). Kemudian sikap perfeksionis juga menjadi hal yang penting dalam kehidupannya tersebut (Fairburn,et.al, 1997,1999). Jika sikap perfeksionisme diarahkan kepada ke persepsi yang terdistorsi mengenai citra tubuh, maka sebuah mesin berkekuatan tinggi untuk mendorong perilaku gangguan makan pun siap bekerja (Shafran, Cooper, dan Fairburn, 2002).
J.C. Rosen dan H. Leitenberg (1985) melihat adanya kecemasan yang substansial sebelum dan saat makan yang diredakan dengan purging. Mereka mengatakan bahwa perilaku purging tersebut akan membuat mereka lega serta mereka akan mengulangi perilaku yang membuat diri mereka menjadi senang atau bebas dari cemas.
McKenzie, Williamson, dan Cubic (1993) menemukan bahwa perempuan bulimik menilai ukuran tubuhnya lebih besar dan berat yang mereka anggap ideal lebih ringan dibandingkan kelompok kontrol yang memiliki ukuran tubuh sama dengan mereka. Bahkan, para perempuan penderita bulimia menilai tubuh mereka bertambah besar setelah mereka makan sebatang permen dan minum sebotol minuman ringan.
3. Faktor Biologi
Gangguan makan mengalir dalam suatu keluarga dan tampaknya memiliki gangguan genetik (Strober, 2002). Hsu (1990) memiliki spekulasi bahwa cirri kepribadian nonspesifik seperti ketidakstabilan emosi dan pengendalian impuls buruk mungkin bersifat warisan. Kemudian Strober (2002) juga mengatakan seseorang mungkin mewarisi kecenderungan untuk bersifat responsif secara emosional terhadap hal-hal atau kejadian- kajadian yang stressful, dan sebagai konsekuensinya, mungkin makan secara kompulsif sebagai usahanya untuk mengurangi stres dan kecemasannya. Sampai sekarang para peneliti belum menemukan penyebab yang pasti antara fungsi-fungsi neurobiologist terhadap gangguan makan tersebut. Akan tetapi peneliti hanya menemukan gangguan yang merupakan hasil atau akibat dari siklus makan tersebut.
Beberapa penelitian menjelaskan bahwa pada penderita bulimia yang parah, kadar neurotransmiternya (pengantar kimia pada otak), terutama serotonin -- yang berhubungan dengan depresi dan gangguan obsesif-kompulsif cenderung lebih rendah. Bahan kimia tersebut mengontrol tubuh dalam pembuatan hormon. Penderita bulimia memiliki kadar neurotransmitter serotonin dan norepinephrine yang sangat rendah. Keduanya berperan penting dalam mendorong kelenjar pituitari untuk membuat dan melepaskan hormon yang mengontrol sistem neuroendokrin yang mengatur emosi, perkembangan fisik, ingatan dan detak jantung. Ketika hormon tidak terbentuk, kerja beberapa fungsi tubuh tersebut menjadi terganggu. Penelitian lain menemukan rendahnya kadar asam amino triptofan dalam darah. Asam amino triptofan merupakan sejenis zat dalam makanan yang penting untuk produksi serotonin, yang bisa menyebabkan depresi dan mendorong terjadinya bulimia.
C. Perspektif
Kasus bulimia nervosa dapat dipandang dari beberapa perspektif psikologi, diantaranya adalah:
1. Psikoanalisa
Psikoanalisa memandang suatu gangguan merupakan dari alam bawah sadarnya. Gangguan yang terjadi merupakan tabrakan dari keinginan-keinginan tak sadarnya dengan keinginan-keinginan sadarnya (Gerungan, 2004). Psikoanalisa membagi jiwa manusia menjadi tiga yaitu id, ego dan super ego. Keinginan untuk makan individu merupakan id dari individu tersebut. Akan tetapi id yang muncul merupakan keinginan untuk makan secara terus-menerus (binge). Kemudian muncul keinginan untuk mengikuti norma masyarakat (superego) yaitu individu merasa bentuk tubuhnya harus terlihat ideal atau seperti orang lain atau bahkan lebih baik. Kemudian dari pertentangan tersebut muncul gangguan jiwa seseorang. Ego yang fungsinya sebagai “penyeimbang” tidak bisa menyeimbangkannya. Maka dari gejala tersebut individu tersebut akan terus-menerus makan akan tetapi individu tersebut ingin tubuhnya tetap terlihat ideal yang dimanifestasikan dengan mengeluarkan makanan tersebut atau dengan cara yang lain agar bentuk tubuhnya tetap ideal.
2. Behavioral
Substansi dari teori skinner adalah teori belajar, pengkajian mengenai bagaimana proses individu memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih tahu, dan menjadi lebih trampil. Menurut Skinner (dalam Alwisol, 2006), kehidupan terus menerus dihadapkan dengan situasi eksternal yang baru dan organisme harus belajar merespon situasi baru itu memakai respon lama atau memakai respon yang baru dipelajari.
Menurut Skinner juga kelainan tingkah laku adalah kegagalan belajar membuat seperangkat respon yang tepat. Merespon secara salah (inapropriate set of response) terkait dengan ketidakmampuan mengenali penanda spesifik suatu stimulus, individu akhirnya mengembangkan respon yang salah karena justru respon itu yang mendapat penguatan. Dalam teori ini, manusia cenderung akan mengulangi perbuatan yang mendapat penguatan. Dalam hal ini individu yang mengalami gangguan bulimia nervosa adalah seorang individu yang salah dalam belajarnya. Individu belajar bagaimana cara agar tubuhnya tidak gemuk atau tetap ideal. Akan tetapi respon yang muncul adalah dengan mengeluarkan makanan tersebut atau dengan olahraga secara berlebihan. Dari respon tersebut individu merasa mendapat penguatan yaitu tubuhnya tetap ideal. Penguatan-penguatan itulah yang menjadikan individu selalu melakukan tindakan tersebut.
3. Kognitif
Persepsi adalah proses mengetahui / mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indera (Zulaifah, et.al, 2008). Terkadang individu bisa salah mempersepsi sesuatu termasuk dalam mempersepsi diri. Kesalahan mempersepsi dapat menyebabkan masalah yang muncul akibat hal tersebut. Sternberg (1999) membedakan masalah ke dalam 2 tipe, yaitu:
a. Well-structured problems, ciri-ciri :
i. Masalah terstruktur dengan baik.
ii. Biasanya terdapat pada soal-soal ujian seperti yang terdapat di lingkungan sekolah. Ex :matematika, sejarah, geografi.
iii. Tujuan :memperoleh jawaban.
iv. Penilaian ‘benar’ dan ‘salah’.
b. Ill structured problems, ciri-ciri:
i. Memungkinkan problem solver kesulitan untuk membentuk gambaran mental mengenai bagaimana solusi yang tepat karena tidak terstruktur.
Dalam hal ini, individu yang menderita bulimia memiliki ill structured problems. Individu tidak dapat atau sulit membentuk gambaran mental mengenai bagaimana pemikiran tubuh yang ideal mendapatkan solusi untuk permasalahannya. Menurut Simon (1957), seseorang cenderung menggunakan pemikiran rasional namun terbatas (bounded rationality). Menurutnya kita cenderung menggunakan strategi pengambilan keputusan berdasarkan kepuasan. Apabila kita merasa puas, maka kita tidak akan mempertimbangkan lagi kemungkinan-kemungkinan dan lebih berhati-hati dalam memutuskan. Individu tersebut memiliki suatu cara atau pola pikir yang salah tentang dirinya dalam hal ini adalah bentuk tubuh yang ideal. Individu cenderung membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain. Keterbatasan itulah yang kemudian menjadikan individu mencari jalan keluar agar bentuk tubuhnya tetap ideal dan juga tetap makan makanan yang individu tersebut inginkan.
Individu merasa bahwa dengan mengeluarkan makanan secara langsung atau dengan olahraga yang berat agar tidak terjadi timbunan lemak adalah hal yang paling baik dilakukan agar tubuhnya tetap ideal dimatanya maupun orang lain. Serta dari persepsi inilah individu merasa “aman” jika makan terus-menerus atau dalam jumlah yang banyak sekalipun. Persepsi inilah yang menjadi sumber utama gangguan bulimia tersebut.
D. Gejala
Tanda-tanda komplikasi bulimia, menurut Monique Elizabeth Sukamto (1999) yakni individu mengalami peradangan tenggorokan, pembengkakkan kelenjar ludah, kerusakan gigi karena penderita sering melakukan purging (memuntahkan makanannya).
Sedangkan karakteristik diagnostik bulimia nervosa berdasarkan DSM IV adalah:
1. Episode berulang dari makan berlebihan seperti yang ditunjukkan oleh kedua hal berikut ini :
a. Memakan makanan dalam jumlah yang sangat luar biasa selama periode 2 jam.
b. Merasa kehilangan kontrol terhadap pemasukan makanan pada saat episode tersebut.
2. Perilaku tidak sesuai yang sering terjadi untuk menjaga agar berat tubuh tidak bertambah seperti membangkitkan rasa ingin muntah, penyalahgunaan obat pencahar, diuretik atau enema, dengan berpuasa atau latihan berlebihan.
3. Rata – rata minimal dalam seminggu terjadi dua episode makan berlebihan dan perilaku kompensasi yang tidak sesuai untuk menghindari bertambahnya berat badan, dan hal ini terjadi minimal selama 3 bulan.
4. Perhatian yang berlebihan yang terus menerus pada bentuk dan berat badan.
E. Onset
Usia rata – rata dari terjadinya bulimia adalah remaja akhir, ketika tekanan tentang diet dan ketidakpuasan akan bentuk tubuh atau berat badan berada pada puncaknya. Bulimia nervosa biasanya mempengaruhi wanita kulit putih (non Hispanik) pada tahap remaja akhir atau dewasa awal (APA, 2000). Beberapa penyebab terjadinya gangguan makan antara lain perubahan hormone (Garfinkel & Garner, 1982), pertentangan hidup (Minuchin, Rosman, & Baker, 1978), masalah seksualitas (Coovert, Kinder, dan Thompson, 1989), dan masalah image beauty (Hsu,1990)
Pendapat bahwa gangguan makan berhubungan dengan status sosial ekonomi tinggi mungkin menunjukkan kecendrungan pada pasien – pasien yang berada untuk mendapatkan perawatan. Pada kenyataannya, tekanan sosial pada wanita muda dalam usaha untuk mencapau tubuh ideal yang sangat kurus terdapat pada golongan status sosial ekonomi manapun.
F. Prevalensi
Makan berlebihan pada penderita bulimia biasanya muncul diam – diam dan biasanya di rumah pada siang atau sore hari (Drewnowski, 1997; Guertin, 1999). Makan berlebihan biasanya berlangsung selama 30 sampai 60 menit dan ditujukan untuk mengkonsumsi makanan yang harusnya dihindari seperti makanan yang manis dan kaya lemak. Penderita biasanya merasa kurang dapat mengontrol kebiasaan makan berlebihan dan dapat mengkonsumsi 5000 sampai 10000 kalori sekaligus.
Prevalensi individu yang mengalami gangguan bulimia adalah 90%-95% atau sebagian besar adalah perempuan yang berkulit putihdan berasal dari kaum menengah ke atas, sedangkan sisanya 5%-10% adalah laki-laki dimana umur onset untuk gangguan ini sedikit lebih tua dan banyak diantaranya adalah kaum biseksual atau homoseksual (Rothblum, 2002). Schlundt dan Johnson (1990) merangkum sejumlah besar survei dan mengatakan bahwa 6%-8% perempuan muda terutama mahasiswi, memenuhi kriteria bulimia nervosa.
Studi yang paling penting adalah yang dilaporkan oleh Kendler dan rekan-rekan sejawatnya (1991). Dalam studi ini, 2163 orang kembar (lebih dari 1000 pasangan kebar 2 atau lebih) diwawancarai. Prevalensi seumur-hidup bulimia ditemukan 2,8% atau bisa menjadi 5,3% jika gejala bulimia yang tidak memenuhi kriteria juga diambil.
Dalam sebuah penelitian tentang perjalanan hidup bulimia, dari 102 perempuan yang mengalami bulimia dan mengikuti 92 orang diantaranya secara prospektif selama 5 tahun, sekitar sepertiga diantaranya mengalami perbaikan sampai ke titik di mana setiap tahunnya mereka tidak lagi memenuhi kriteria diagnostiknya.
G. Terapi
Terdapat berbagai macam terapi yang dapat digunakan dalam menangani kasus bulimia tersebut, antara lain:
1. Terapi kognitif perilaku
Cooper dan kerabat (1994) menyebutkan bahwa mereka mendapatkan pengurangan yang sangat kuat dalam frekuensi dari binge eating dan memuntahkannya kembali setelah memakai panduan terapi self-help cognitive behavior. Panduan tersebut termasuk enam sampai delapan sesi laporan yang dipandu dengan terapis yang bukan spesialis yang menyediakan dukungan dan dorongan dalam memakai panduan tersebut. Satu dari tiga penderita yang ditanya setelah mengikuti terapi ini selama 8 minggu follow up menyebutkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan. Di dalam panduan self help tersebut berisi tentang bagaimana cara membantu mereka dalam mengatasi masalah gangguan makannya. Setelah membaca panduan tersebut, maka individu tersebut diminta sambil mengamalkan atau menjalankan apa yang terdapat dalam buku tersebut. Terapi ini menggunakan pendekatan kognitif perilaku yang mana individu diberikan pengetahuan awal yang dapat mengubah pola pikirnya mengenai dampak buruk baik makan berlebihan ataupun dampak purging atau mengeluarkan makanan tersebut serta mngubah cara pandangnya tentang body image. Setelah itu individu merubah pola makannya serta kebiasaan makannya.
2. Terapi obat
Penderita bulimia dapat dibantu dengan obat-obatan walaupun belum terbukti secara pasti efeknya (Wilson dan Fairburn, 2002). Ada penelitian yang menyebutkan bahwa obat jenis Prozak mungkin efektif untuk mencegah kekambuhan penyakit (Kaye,et.al,2001). Namun ada obat yang dipercaya paling efektif untuk bulimia yaitu obat-obatan yang sama dengan obat anti-depresan yang efektif untuk gangguan suasana perasaan dan gangguan kecemasan (Kaye,et.al, 1999). Dalam suatu penelitian tentang obat anti-depresan dan prozak, para peneliti mendapatkan pengurangan rata-rata dalam perilaku makan berlebih dan purging masing-masing sebesar 47% dan 65% (Walsh, 1991).
3. Terapi keluarga
Terapi lainnya yang dapat dipakai adalah terapi keluarga yang diadaptasi dari Maudsley model of family therapy. Dalam terapi ini peran keluarga adalah sebagai kunci yang sangat penting dalam membantu perawatan dan kesembuhan dari individu tersebut. Dalam terapi ini dibuat agar anggota keluarga lain ikut serta dan menunjukkan bahwa mereka adalah tempat yang tepat untuk membantu masalah tersebut. Perlakuan yang dilakukan antara lain:
a. membuat orientasi masalah yaitu individu diminta untuk menjelaskan masalahnya kepada keluarganya,
b. Menekankan sebuah peraturan dari keluarga dalam mempromosikan pemulihan dari cara makan yang benar
c. Menyediakan pendidikan tentang bulimia dan dampaknya.
H. Prevensi
Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari gangguan bulimia nervosa pada dasarnya lebih mengacu kepada sejauh mana penerimaan diri seseorang terhadap dirinya sendiri, penerimaan terhadap lingkungan dan penerimaan lingkungan orang sekitar terhadap dirinya.
Hal ini dapat diterapkan dengan cara memulai memberikan pandangan yang positif kepada diri sendiri dan orang lain. Kita juga dapat memberikan pengajaran kepada anak untuk selalu menjaga tubuh mereka agar selalu sehat dengan berolahraga dan menerapkan pola hidup sehat serta mengkonsumsi makanan yang baik dan berguna untuk tubuh sesuai dengan proporsinya masing-masing.
Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari stigma atau pandangan tertentu yang terasa sepele akan tetapi dapat menimbulkan dampak negatif. Misalnya, jangan membuat opini bahwsanya badan yang kurus merupakan sebuah tubuh yang sehat, populer, indah dan dapat diterima di masyarakat luas, sedangkan badan yang gemuk akan dikucilkan dari masyarakat. Hal seperti itulah yang dapat merangsang seseorang berpikir negatif terhadap dirinya dan kemudian orang tersebut merasa takut bila badannya terlihat gemuk karena khawatir tidak cantik lagi, sehingga orang tersebut memutuskan untuk melakukan binge eating dari setiap makanan yang ia konsumsi. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan menghindari memberikan reward terutama pada anak-anak dalam bentuk makanan, karena hal ini sama saja menstimulasi seseorang untuk merusak pola makan.
I. Kualitas Hidup
Individu penderita bulimia biasanya mengalami depresi. Dari penelitian terhadap 20 orang bulimia, 20 orang fobia social, dan 20 orang gangguan panic menunjukkan bahwa 75% orang dengan gangguan bulimia juga menunjukkan gangguan kecemasan seperti fobia sosial atau kecemasan menyeluruh (Schwalburg, Barlow, Alger, dan Howard, 1992). Kemudian penderita bulimia terutama tipe purging biasanya akan memiliki dampak atau konsekuensi lebih tinggi dari non-purging. Komplikasi medis dari bulimia disebabkan karena muntah yang terus menerus. Dampak fisik yang mungkin terjadi:
1. Iritasi pada kulit sekitar mulut. Penyebabnya adalah seringnya kontak dengan asam lambung, terhambatnya air liur, peluruhan enamel gigi dan karang gigi.
2. Dapat merusak reseptor pada lidah yang disebabkan oleh asam yang timbul dari muntah, sehingga menyebabkan orang menjadi kurang sensitif terhadap rasa dari makanan yang dimuntahkan (Rodin dkk., 1999).
3. Siklus makan banyak dan memuntahkannya dapat menyebabkan sakit pada perut, hiatal hernia, dan keluhan perut lainnya.
4. Tekanan pada pankreas dapat menghasilkan pankreatitis (rasa panas) yang merupakan situasi darurat medis.
5. Gangguan fungsi menstruasi ditemukan pada 50% wanita penderita bulimia yang memiliki berat badan normal (Weltzin dkk., 1994).
6. Penggunaan obat pencahar yang berlebihan dapat menyebabkan diare berdarah dan ketergantungan.
7. Pada kasus yang ekstrem, organ – organ pencernaan akan kehilangan respon refleknya untuk menekan zat – zat sisa.
8. Muntah yang berulang atau penyalahgunaan obat pencahar dapat menyebabkan kekurangan potassium, membuat otot – otot melemah, fungsi jantung tidak normal, atau bahkan kematian mendadak – terutama ketika diuretic juga digunakan.
Pribadi yang menghindar juga muncul dari penderita bulimia nervosa terutama menghindar dari tekanan atau stressor. Kemudian dampak psikis yang dapat terjadi pada penderita bulimia adalah :
1. Perasaan tidak berharga
2. Sensitif, mudah tersinggung, mudah marah
3. Mudah merasa bersalah
4. Kehilangan minat untuk berinteraksi dengan orang lain
5. Tidak percaya diri, canggung berhadapan dengan orang banyak
6. Cenderung berbohong untuk menutupi perilaku makannya
7. Minta perhatian orang lain
8. Depresi (sedih terus menerus

GANGGUAN ANXIETY

BAB I
PENDAHULUAN
Sensasi anxietas atau cemas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai oleh rasa ketakutan yang difius, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh gejala otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan sebagainya. Kumpulan gejala tertentu yang ditemui selama kecemasan cenderung bervaniasi, pada setiap orang tidak sama. Dalam praktek sehari-hani anxietas sering dikenal dengan istilah perasaan cemas, perasaan bingung, was-was, bimbang dan sebagainya, dimana istilah tersebut lebih merujuk pada kondisi normal. Sedangkan gangguan anxietas merujuk pada kondisi patologik.
Anxietas sendiri mempunyai rentang yang luas dan normal sampai level yang moderat misalnya pertandingan sepak bola, ujian, wawancara untuk masuk kerja mempunyai tingkat anxietas yang berbeda. Anxietas sendiri dapat sebagai gejala saja yang terdapat pada gangguan psikiatrik, dapat sebagai sindroma pada neurosis cemas dan dapat juga sebagai kondisi normal.
Anxietas normal sebenarnya sesuatu hal yang sehat, karena merupakan tanda bahaya tentang keadaan jiwa dan tubuh manusia supaya dapat mempertahankan diri dan anxietas juga dapat bersifat konstruktif, misalnya seorang pelajar yang akan menghadapi ujian, merasa cemas, maka ia akan belajar secara giat supaya kecemasannya dapat berkurang.
Anxietas dapat bersifat akut atau kronik. Pada anxietas akut serangan datang mendadak dan cepat menghilang. Anxietas kronik biasanya berlalu untuk jangka waktu lama walaupun tidak seintensif anxietas akut, pengalaman penderitaan dari gejala cemas ini oleh pasien biasanya dirasakan cukup gawat untuk mempenganuhi prestasi kerjanya. Bila dilihat dan segi jumlah, maka orang yang menderita anxietas kronik jauh lebih banyak daripada anxietas akut.
Ansietas merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan gejala somatik yang menandakan suatu kegiatan berlebihandari susunan saraf autonomic (SSA). Ansietas merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu fungsi emosi. Sedangkan depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri.

BAB II
PEMBAHASAN

A. DIFINISI ANXIETAS
“Anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besar. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. (Harold I Lief)
“Anenvous condition of unrest” ( Leland E. HINSIE dan Robert S CAMBELL)
“Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya.” ( J.J GROEN)

GEJALA UMUM ANXIETAS
Gejala Psikologik :
Ketegangan, kekuatiran, panic, perasaan tak nyata, takut mati, takut gila, takut kehilangan control dan sebagainya.
Gejala Fisik :
Gemetar, berkeringat,jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing, ketegangan otot, mual, sulit bernapas, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung, dan sebagainya.

Keluhan yang dikemukakan pasien dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak nafas, rasa sakit dada, kadang-kadang merasa harus menarik nafas dalam, ada sesuatu yang menekan dada, jantung berdebar, mual, vertigo, tremor, kaki dan tangan merasa kesemutan, kaki dan tangan tidak dapat diam ada perasaan harus bergerak terus menerus, kaki merasa lemah, sehingga berjalan dirasakan beret, kadang- kadang ada gagap dan banyak lagi keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan yang dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan gangguan anxietas kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya beberapa gejala 1 keluhan saja. Tetapi pengalaman penderitaan dan gejala ini oleh pasien yang bersangkutan biasanya dirasakan cukup gawat.

B. Beberapa Teori Tentang Gangguan Anxietas:
a. TEORI PSIKOLOGIS
I. Teori Psikoanalitik
Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensive terhadap tekanan dari dalam diri. Misal : menggunakan mekanisme represi, dan bila berhasil terjadi pemulihan keseimbangan psikologis tanpa adanya gejala gangguan anxietas dan jika represi tidak berhasil sebagai suatu pertahanan, maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain yakni : konvensi, regresi, ini menimbulkan gejala.
II. Teori perilaku
Teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiaskan terhadap stimuli lingkungan spesifik. Misal : seorang anak dapat belajar untuk memiliki respon kecemaan internal dengan meniru respon kecemasan orang tuanya.
III. Teori Eksistensial
Konsep dan teori ini adalah, bahwa seseorang menjadi menyadari adanya kehampaan yang menonjol di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada penerimaan tentang kenyataan kehilangan/ kematian seseorang yang tidak dapat dihindari. Kecemasan adalah respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi tersebut.
b. TEORI BIOLOGIS
I. Susunan Saraf Otonom
Stimuli sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu. Sistem kardiovaskular takikardi, muskular nyeri kepala, gastrointestinal diare dan sebagainya.
II. Neurotransmiten
Tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan penelitian pada binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin, serotonin dan gamma-aminobutyric acid
III. Penelitian genetika
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan panik memiliki sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan.
IV. Penelitian Pencitraan Otak
Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital, temporalis. Pada gangguan panik didapati kelainan pada girus para hipokampus.

C. BENTUK GANGGUAN ANXIETAS
1. Gangguan Panik
Ada dua kriteria Gangguan panik : gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan panik dengan agorofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.
Gambaran klinis :
Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik, walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma emosional. Klinisi harus berusaha untuk mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului serangan panik. Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk mencari bantuan dan biasanya serangan berlangsung 20 sampai 30 menit.
Pasien dengan gangguan agoraphobia akan menghindari situasi dimana dia akan sulit mendapat bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa mereka harus ditemani setiap kali keluar rumah.
Gejala penyerta :
Gejala depresi seringkali ditemukan pada serangan panik dan agorafobia, pada beberapa pasien suatu gangguan depresi ditemukan bersama-sama dengan gangguan panik. Penelitian telah menemukan bahwa resiko bunuh diri selama hidup pada orang dengan gangguan panik adalah lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan mental.
Diagnosa banding :
Penyakit kardio paskuler : anemia, hipertensi, infark iniokardium, dst.
Penyakit pulmonum : asma, hiper ventilasi, emboli paru-paru.
Penyakit neurologis : serebrovaskular, epilepsy, migrain, tumor, dsb.
Penyakit endoktrin : diabetes, hipertroidisme, hipoglikemi, sindroma pramenstruasi, gangguan menopause,dsb.
Intoksikasi obat dan putus obat
Kondisi lain : anafilaksis, gangguan elektrolit, keracunan logam berat, uremia, dsb.
Pedoman diagnostik agropobia :
• Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana kemungkinan sulit meloloskan diri
• Situasi dihindari, misal jarang bepergian
• Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena gangguan mental lain, misal fobia social
Pedoman diagnostik gangguan panik :
• Serangan panik rekuren dan tidak diharapkan
• Sekurangnya satu serangan , diikuti satu atau lebih : kekawatiran menetap akan mengalami serangan tambahan, ketakutan tentang arti serangan, perubahan perilaku bermakna berhubungan dengan serangan
• Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung atau suatu kondisi medis umum
• Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain. Misal : gangguan obsesif - kompulsif.
• Gangguan panik bisa dengan agorafobia atau tanpa agoraphobia
TERAPI
Konseling dan medikasi.
Konseling
ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan diri untuk mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan. Identifikasikan rasa takut selama serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak mengalami serangan jantung, hanya panik, akan berlalu.
Medikasi
banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila serangan sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam hari, dosis bisa sampai 100 150 mg malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas beri anti anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari pemberian jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu.
Gangguan fobik
Penelitian epidemiologis di amerika serikat menemukan 510 persen populasi menderita gangguan ini. Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari terhadap objek, aktivitas, atau situasio yang ditakuti.
Fobia spesifik : takut terhadap binatang, badai, ketinggian, penyakit, cidera, dsb.
Fobia sosial : takut terhadap rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan social, seperti berbicara di depan umum, dsb.
Pedoman diagnostik
• Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak beralasan (obyek /situasi)
• Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan kecemasan
• Menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan
• Situasi fobik dihindari
TERAPI
Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. Dengan konseling banyak pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50 150 mg/ hari. Bila ada anxietas beri antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan. Beta bloker dapat mengurangi gejala fisik. Konsultasi spesialitik bila sampai rasa takut menetap.
2. Gangguan Obsesif-kompulsif
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2-3 persen. Obsesif adalah pikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki. Kompulsif adalah tingkah-laku yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
Pedoman diagnosis
 Pikiran, impuls, yang berulang
 Perilaku yang berulang
 Menyadari bahwa obsesif-kompulsif adalah berlebihan atau tidak beralasan
 Obsesif-kompulsif menyebabkan penderitaan
 Tidak disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum.
Diagnosis banding
Kondisi fisik : gangguan neurologis (epilepsy lobul temporalis, komplikasi trauma, dsb)
Kondisi psikiatrik : gangguan kepribagian obsesif-kumpulsif, fobia, gangguan depresif.
Terapi
Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat mengurangi gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 - 150mg atau golongan Selected Serotonin Reuptake Inhibitors. Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.
3. Gangguan Stres Pasca Trauma
Pasien dapat diklasifikasikan mendenta gangguan stres pasca-trauma, bila mereka mengalami suatu stres yang akan bersifat traumatik bagi hampir semua orang. Trauma bisa berupa trauma peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan, kecelakaan.
Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari : pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran, penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan dan persisten. Gejala penyerta yang sering dan gangguan stres pasca-trauma adalah depresi, kecemasan dan kesulitan kognitif (contoh : pemusatan perhatian yang buruk)
Prevalensi seumur hidup gangguan stres pasaca-trauma diperkirakan I sampai 3 persen populasi umum, 5 sampai 15 persen mengalami bentuk gangguan yang subklinis. Walaupun gangguan stres pasca-trauma dapat terjadi pada setiap usia, namun gangguan paling menonjol pada usia dewasa muda.
Pedoman diagnostik pasca trauma
A. Telah terpapar dengan peristiwa traumatik, didapati:
 mengalami, menyaksikan, dihadapkan dengan peristiwa yang berupa ancaman kematian, atau kematian yang sesungguhanya atau cedera yang serius,atau ancaman integritas fisik diri sendiri atau orang lain
 respon berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya
B. Keadan traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu atau lebih cara berikut:
 rekoleksi yang menderitakan, rekuren dan mengganggu tentang kejadian
 Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian
 berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali
 penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik
 reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai aspek kejadian traumatik
C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma
D. Gejala menetap, adanya peningkatan kesadaran, seperti dua atau lebih berikut :
kesulitan tidur, irritabilitas, sulit konsentrasi, kewaspadaan berlebihan, respon kejut
yang berlebihan.
E. Lama gangguan gejala B,C,D adalah lebih dari satu bulan.
F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
4. Gangguan stres Akut
Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada seseorang tanpa adanya gangguan jiwa lain yang nyata, sebagai respons terhadap stres fisik maupun mental yang luar biasa dan biasanya menghilang dalam beberapa jam atau hari. Stresornya dapat berupa pengalaman traumatik yang luar biasa . Kerentanan individu dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan dalam terjadinya dan keparahannya suatu reaksi stres akut.
Pedoman diagnostik
Harus ada kaitan waktu yang langsung dan jelas antara terjadinya pengalaman stresor luar biasa dengan onset dan gejala. Onset biasanya setelah beberapa menit atau bahkan segera setelah kejadian. Selain itu ditemukan (a) terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah; selain gejala permulaan berupa keadaan “ terpaku” , semua gejala berikut mungkin tampak: depresif, anxietas, kemarahan, kekecewaan, overaktif dan penarikan diri, akan tetapi tidak satupun dan jenis gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya untuk waktu lama. (b) pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dan stresomya, gejala-gejalanya dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal dimana stres tidak dapat dialihkan, gejala-gejala biasanya baru mulai mereda setelah 24 - 48 jam dan biasanya menghilang setelah 3 hari.
5. Gangguan Anxietas Menyeluruh.
Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan lama), Gejala yang dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastnik adalah keluhan¬keluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan.
Pedoman diagnostik
Pasien harus menunjukan gejala primer anxietas yang berlangsung hampir setiap hari selama beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut : kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik, overaktivitas otonomik
Terapi
Konseling dan medikasi: informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai efek fisik dan mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak stres merupakan pertolongan yang paling efektif. Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan dapat mengurangi gejala anxietas. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau pikiran yang pesimistik. Latihan fisik yang teratur sering menolong. Medikasi merupakan terapi sekunder, tapi dapat digunakan jika dengan konseling gejala menetap. Medikasi anxietas : misal Diazepam 5 mg malam hari, tidak lebih dari 2 minggu, Beta bloker dapat membantu mengobati gejala fisik, antidepresan bila ada depresi. Konsultasi spesialistik bila anxietas berat dan berlangsung lebih dan 3 bulan.
6. GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI
DIAGNOSISBerdasarkan PPDGJ-III kriteria diagnostik untuk gangguan campuran anxietas dan depresi adalah sebagai berikut:
a. Terdapat gejala-gejala anxietas maupun depresi, di mana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri. Untuk anxietas, beberapa gejala otonomik harus ditemukan walaupun tidak terus menerus, disamping rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan.
b. Bila ditemukan anxietas berat disertai depresi yang lebih ringan, maka harus dipertimbangkan kategori gangguan anxietas lainnya atau gangguan anxietas fobik.
c. Bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas yang cukup berat untuk menegakkan masing-masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut harus dikemukakan, dan diagnosis gangguan campuran tidak dapat digunakan. Jika karena sesuatu hal hanya dapat dikemukakan satu diagnosis maka gangguan depresif harus diutamakan.
d. Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stress kehidupan yang jelas, maka harus digunakan kategori F43.2 gangguan penyesuaian.

Gambaran Klinis
Ansietas dan gangguannya dapat menampilkan diri dalam berbagai tanda dan gejala fisik dan psikologik seperti gemetar, renjatan, rasa goyah, nyeri punggung dan kepala, ketegangan otot, napas pendek, mudah lelah, sering kaget, hiperaktivitas autonomik seperti wajah merah dan pucat, takikardi, palpitasi, berkeringat, tangan rasa dingin, diare, mulut kering, sering kencing. Rasa takut, sulit konsentrasi, insomnia, libido turun, rasa mengganjal di tenggorok, rasa mual di perut dan sebagainya.Gejala utama dari depresi adalah afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) serta menurunnya aktivitas. Beberapa gejala lainnya dari depresi adalah:
• konsentrasi dan perhatian berkurang;
• harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
• gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna;
• pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
• gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
• tidur terganggu;
• nafsu makan berkurang.
Untuk gangguan campuran anxietas dan depresi, kedua gejala baik gejala anxietas maupun gejala depresi tetap ada namun kedua-duanya tidak menunjukkan gejala yang cukup berat atau lebih menonjol antara satu dengan lainnya. 3,4,6,7

Diagnosa Banding
Diagnosis banding gangguan campuran anxietas dan depresi hampir semua kondisi medis yang menyebabkan kecemasan. Mengingat keadaan cemas biasanya disertai dan diikuti dengan gejala depresi. Untuk diagnosis dibutuhkan penentuan kreteria yang tepat antara berat ringannya gejala, penyebab serta perlangsungan dari gejala apakah sementara atau menetap. Pada gangguan cemas lainnya biasanya depresi adalah bentuk akhir bila penderita tidak dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Pada cemas menyeluruh depresi biasanya bersifat sementara dan lebih ringan gejalanya dibanding anxietas, gangguan penyesuaian memiliki gejala yang jelas berkaitan erat dengan stres kehidupan.

Terapi
Pengobatan yang paling efektif untuk pasien dengan gangguan campuran anxietas dan depresi adalah kemungkinan pengobatan yang mengkombinasikan psikoterapetik, farmakoterapetik, dan pendekatan suportif. Pengobatan mungkin memerlukan cukup banyak waktu bagi klinisi yang terlibat, terlepas dari apakah klinisi adalah seorang dokter psikiatrik, seorang dokter keluarga, atau spesialis lainnya.

Psikoterapi
Pendekatan psikoterapetik utama untuk gangguan kecemasan umum adalah kognitif-perilaku, suportif, dan berorientasi-tilikan. Data masih terbatas tentang manfaat relatif dari pendekatan-pendekatan tersebut, walaupun penelitian yang paling canggih telah dilakukan dengan teknik kognitif-perilaku, yang tampaknya memiliki kemanjuran jangka panjang dan jangka pendek. Pendekatan kognitif secara langsung menjawab distorsi kognitif pasien yang dihipotesiskan, dan pendekatan perilaku menjawab keluhan somatik secara langsung. Teknik utama yang digunakan dalam pendekatan kognitif dan perilaku adalah lebih efektif dibandingkan teknik tersebut jika digunakan sendiri-sendiri. Tetapi suportif menawarkan ketentraman dan kenyamanan bagi pasien, walaupun manfaat jangka panjangnya adalah meragukan. Psikoterapi berorientasi-tilikan memusatkan untuk mengungkapkan konflik bawah sadar dan mengenali kekuatan ego. Manfaat psikoterapi berorientasi-tilikan untuk gangguan kecemasan umum dilaporkan pada banyak kasus anekdotal, tetapi tidak terdapat penelitian besar yang terkendali.
Sebagian besar pasien mengalami kekenduran keeemasan yang jelas jika diberikan kesempatan untuk membicarakan kesulitannya dengan dokter yang prihatin dan simpatik. Jika klinisi menemukan situasi eksternal yang menyebabkan kecemasan, klinisi mungkin mampu sendirian atau dengan bantuan pasien atau keluarganya untuk mengubah lingkungan dan dengan demikian menurunkan tekanan yang penuh ketegangan. Penurunan gejala seringkali memungkinankan pasien untuk berfungsi secara efektif dalam pekerjaan dan hubungannya sehari-hari, yagn memberikan kesenangan dan pemuasan baru yang dengan sendirinya bersifat terapetik.
Pandangan psikoanalitik adalah bahwa dalam kasus tertentu kecemasan adalah suatu sinyal dari kekacauan bawah sadar yang memerlukan pemeriksaan. Kecemasan dapat normal, adaptif, maladaptif, terlalu kuat, atau terlalu ringan, tergantung pada keadaan. Kecemasan tampak dalam berbagai situasi selama peijalanan siklus hidup seseorang; pada banyak kasus, pengurangan gejala bukan merupakan tujuan tindakan yang paling tepat.
Bagi pasien yang secara psikologis bermaksud dan termotivasi untuk mengerti sumber kecemasannya, psikoterapi mungkin merupakan pengobatan terpilih. Tetapi psikodinamika bekerja dengan anggapan bahwa keeemasan mungkin meningkat pada pengobatan yang efektif. Tujuan pendekatan dinamika adalah untuk meningkatkan toleransi kecemasan pasien (didefmisikan sebagai kemampuan untuk mengalami kecemasan tanpa hares melampiaskannya), bukannya untuk menghilangkan kecemasan. Penelitian empiris menyatakan banyak pasien yang menjalani psikoterapetik secara berhasil mungkin terus mengalami kecemasan setelah dihentikannya psikoterapi. Tetapi, peningkatan penguasaan ego memungkinkan mereka untuk menggunakan gejala kecemasan sebagai sinyal untuk mencerminkan perjuangan hidup dan untuk meluaskan tilikan dan pengertian mereka. Suatu pendekatan psikodinamika pada pasien dengan gangguan kecemasan umum melibatkan pencarian rasa takut pasien yang mendasarinya.
Farmakoterapi
Keputusan untuk meresepkan suatu obat pada pasien dengan gangguan kecemasan campuran anxietas dan depresi hams jarang dilakukan pada kunjungan pertama. Karena sifat gangguan yang berlangsung lama, suatu rencana pengobatan hares dengan cermat dijelaskan. Dua golongan obat utama yang dipakai dalam pengobatan gangguan anxietas adalah Benzodiazepine dan Non-Benzodiazepine, dengan Benzodiazepine sebagai pilihan utama. Sedang untuk depresi dipakai golongan Trisiklik, Tetrasiklik, MAOI-reversible, SSRI, dan Atypical anti depresi. Dimana SSRI menjadi pilihan utama.
Benzodiazepine (Diazepam). Benzodiazepin telah merupakan obat terpilih untuk gangguan kecemasan umum. Benzodiazepin dapat diresepkan atas dasar jika diperlukan, sehingga pasien menggunakan benzodiazepin kerja cepat jika mereka merasakan kecemasan tertentu. Pendekatan alternatif adalah dengan meresepkan benzodiazepin untuk suatu periode terbatas, selama mans pendekatan terapetik psikososial diterapkan.
Beberapa masalah adalah berhubungan dengan pemakaian benzadiazepin dalam gangguan anxietas. Kira-kira 25 sampai 30 persen dari semua pasien tidak berespon, dan dapat terjadi toleransi dan ketergantungan. Beberapa pasien juga mengalami gangguan kesadaran saat menggunakan obat dan, dengan demikian, adalah berada dalam risiko untuk mengalami kecelakaan kendaraan bermotor atau mesin.
Keputusan klinis untuk memulai terapi dengan benzodiazepin hares dipertimbangkan dan spesifik. Diagonosis pasien, gejala sasaran spesifik, dan lamanya pengobatan — semuanya hares ditentukan, dan harus diberikan informasi kepada pasien. Pengobatan untuk sebagian besar keadaan kecemasan berlangksung selama dua sampai enam minggu, diikuti oleh satu atau dua minggu menurunkan obat perlahan-lahan (tapering) sebelum akhirnya obat dihentikan. Kekeliruan klinis yang sering dengan terapi benzodiazepin adalah dengan memutuskan secara pasif untuk melanjutklan pengobatan atas dasar tanpa batas.
Untuk pengobatan kecemasan, biasanya memulai dengan obat pada rentang rendah terapetiknya dan meningkatkan dosis untuk mencapai respon terapetik. Pemakaian benzodiazepin dengan waktu paruh sedang (8 sampai 15 jam) kemungkinan menghindari beberapa efek merugikan yang berhubungan dengan penggunaan benzodiazepin dengan waktu paruh panjang. Pemakaian dosis terbagi mencegah perkembangan efek merugikan yang berhubungan dengan kadar plasma puncak yang tinggi. Perbaikan yang didapatkan dengan benzodiazepin mungkin lebih dan sekedar efek antikecemasan. Sebagai contohnya, obat dapat menyebabkan pasien memandang berbagai kejadian dalam pandangan yang positif. Obat juga dapat memiliki kerja disinhibisi ringah, serupa dengan yang dilihat setelah sejumlah kecil alkohol. Untuk diazepam sediaan tab. 2-5mg, ampul 10 mg/2cc dosis anjuran l0-30mg/hari 2-3xsehari, i.v./i.m 2-10mg /3-4 jam.
Non-Benzodiazepine (Buspirone). Buspirone kemungkinan besar efektif pada 60 sampai 80 persen pasien dengan gangguan cemas. Data menyatakan bahwa buspirone adalah lebih efektif dalam menurunkan gejala kognitif dari gangguan kecemasan umum dibandingkan dengan menurunkan gejala somatik. Bukti-bukti juga menyatakan bahwa pasien yang sebelumnya telah diobati dengan benzodiazepin kemungkinan tidak berespon dengan pengobatan buspirone. Tidak adanya respons tersebut mungkin disebabkan oleh tidak adanya efek nonansiolitik dari benzodiazepin (seperti relaksasi otot dan rasa kesehatan tambahan), yang terjadi pada terapi buspirone. Namun demikian, rasio manfaat-risiko yang lebih balk, tidak adanya efek kognitif dan psikomotor, dan tidak adanya gejala putus that menyebabkan buspirone merupakan obat lini pertama dalam pengobatan gangguan kecemasan umum. Kerugian utama dari buspirone adalah bahwa efeknya memerlukan dua sampai tiga minggu sebelum terlihat, berbeda dengan efek ansiolitik benzodiazepin yang hampir segera terlihat. Buspirone bukan merupakan terapi efektif untuk putus benzodiazepin. Sediaan tab. 10mg dosis anjuran 3x25mg/h.
Anti-Depresi. mekanisme kerja Obat Anti-depresi, adalahmenghambat “re-uptake aminergic neurotransmitter”, menghambat penghancuran oleh ensirn “Monoamine Oxidase” Sehingga terjadi peningkatan jurnlah “arninergic neurotransmitter” pada sinaps neuron di SSP. Efek samping Obal Anti-depresi dapat berupa :
• Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif rnenurun, d11)
• Efek Antikolinergik (mulut keying, retensi urin, penglihatan kabur., konstipasi, sinus takikardia, dsb)
• Efek Anti-adrenergik alfa (perubahan EKG, hipotensi)
• Efek Nourotoksis (tremor halus, gelisah, agitasi,insomnia)
Efek samping yang tidak berat biasanya berkurang setelah 2-3 minggu. SSRI dipilih mengingat efek samping yang ditimbulkan relatif lebih ringan.namun obat ini memiliki harga yang mahal oleh karenanya trisiklik masih sering digunakan. Contoh obat golongan ini adalah fluoxetine,sertraline,paroxetine,citalopram,fluvoxamine. 2.4.6,7,8
PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS
Perjalanan klinis dan prognosis gangguan adalah sukar untuk diperkirakan. Namun demikian, beberapa data menyatakan peristiwa kehidupan berhubungan dengan onset gangguan ini. Terjadinya beberapa peristiwa kehidupan yang negatif secara jelas meningkatkan kemungkinan akan terjadinya gangguan. Hal ini berkaitan pula dengan berat-ringannya gangguan tersebut.
KESIMPULAN
Gangguan campuran anxietas dan depresi adalah gangguan jiwa yang umum terjadi di masyarakat. Pada gangguan anxietas terdapat pembagian gangguan campuran dan depresi (F41.2) sebagai salah satu bentuk dan gangguan anxietas lainnya Anxietas adalah respon normal individu terhadap ancaman atau stresor. Bila anxietas menjadi begitu parah atau timbul tanpa diprovokasi oleh suatu keadaan tidak berbahaya, maka keadaan anxietas tersebut menjadi gangguan
Penyebab gangguan ini adalah tidak jelas. diperantarai oleh suatu system kompleks yang melibatkan system limbic,thalamus, korteks frontal secara anatomis dan norepinefrin, serotonin dan GABA pada system neurokimia, yang man hingga saat ini belum diketahui jelas bagaimana kerja bagian-bagian tersebut
Diagnostik untuk gangguan campuran anxietas dan depresi adalah terdapat gejala-¬gejala anxietas maupun depresi, di mana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri. Untuk anxietas, beberapa gejala otonomik harus ditemukan walaupun tidak terus menerus, disamping rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan.
Untuk diagnosis dibutuhkan penentuan kreteria yang tepat antara berat ringannya gejala, penyebab serta perlangsungan dan gejala apakah sementara atau menetap.
Pengobatan yang paling efektif untuk pasien dengan gangguan campuran anxietas dan depresi adalah kemungkinan pengobatan yang mengkombinasikan psikoterapetik, farmakoterapetik, dan pendekatan suportif.
Perjalanan klinis dan prognosis gangguan sukar untuk diperkirakan berkaitan pula dengan berat-ringannya gangguan tersebut.














DAFTAR PUSTAKA
1. Kaplan H, Sadock B, Grebb J. Kaplan dan Sadock: Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Psikiatri Klinis. Edisi Ketujuh. Jilid Dua. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997.
2. Tomb D. Buku Saku Psikiatri. Edisi Enam. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2000.
3. WHO. PPDGJ III. Cetakan pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik; 1993
4. Kay J, Tasman A. Essentials of Psychiatry. England: John Wiley& Sons Ltd; 2006
5. Kumar P, Clark M. Kumar&Clark Clinical Medicine. 5th ed. UK: WB Saunders; 2002
6. Yates R W. Anxiety Disorders. [online]. 2007 Aug 23 [cited 2008 Feb 18]; [14 screens]. Available from http://www.emedicine.com/emerg/topic152.htm
7. Ravinder N Bhalla, MD. Depression. [online]. 2006 Oct 30 [cited 2008 Feb 181; [14 screens]. Available from http://www.emedicine.com/emerg/topic532.htm
8. Kaplan H, Sadock B, Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat Widya Medika, Jakarta, 1998